Bank Indonesia Punya Pemimpin Baru, Nasib Rupiah Jadi Sorotan
Jakarta — Pergantian kepemimpinan Bank Indonesia membawa perhatian pasar kembali tertuju pada masa depan rupiah. Komisi XI DPR RI telah menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia terpilih periode 2026–2031. Destry akan menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri pada Juli 2026. Keputusan tersebut sekaligus membuka sejarah baru karena Destry berpeluang menjadi perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia secara definitif. Namun, tantangan besar langsung menunggu. Rupiah masih menghadapi tekanan dari arus modal, kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga negara maju, serta persoalan struktural pada sektor eksternal Indonesia. Karena itu, pasar tidak hanya memperhatikan pergantian sosok di kursi gubernur. Investor juga menunggu arah kebijakan moneter yang akan Destry jalankan dalam lima tahun mendatang.
Destry sendiri telah memberikan gambaran mengenai arah kepemimpinannya ketika menjalani uji kelayakan dan kepatutan di DPR. Ia menegaskan Bank Indonesia perlu memperkuat sinergi dengan berbagai lembaga negara untuk menghadapi situasi ekonomi yang semakin kompleks. Namun, Destry juga menekankan bahwa kerja sama tersebut tidak akan mengurangi kredibilitas maupun independensi BI. Ia berjanji mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja sambil tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Pernyataan tersebut penting karena pasar sempat mempertanyakan kesinambungan kebijakan setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri. Destry ingin menunjukkan bahwa pergantian kepemimpinan tidak berarti Bank Indonesia akan meninggalkan fokus terhadap stabilitas.
Destry Damayanti Bersiap Menjadi Gubernur BI
Pergantian kepemimpinan BI bermula ketika Perry Warjiyo mengajukan pengunduran diri pada Juli 2026. Pemerintah secara resmi menerima surat tersebut dan Presiden Prabowo Subianto menyampaikan penghargaan atas pengabdian Perry selama sekitar tujuh tahun memimpin bank sentral. Setelah pengunduran diri itu, Destry yang sebelumnya menjabat Deputi Gubernur Senior menjalankan tugas sebagai pejabat sementara Gubernur BI. Presiden kemudian mengajukan namanya sebagai calon gubernur. Komisi XI DPR menyetujui Destry pada 27 Agustus setelah menyelesaikan proses fit and proper test. DPR juga menyetujui Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior dan Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur BI.
Destry bukan sosok baru dalam kebijakan moneter Indonesia. Ia telah menjabat Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia sejak 2019 sehingga memahami kebijakan yang berjalan selama kepemimpinan Perry. Dalam uji kelayakan di DPR, Destry bahkan menekankan bahwa meskipun dirinya dan Perry memiliki karakter berbeda, keduanya memiliki pandangan kebijakan yang sejalan. Faktor tersebut membuat pasar melihat kepemimpinan Destry sebagai kelanjutan daripada perubahan radikal. Namun, kontinuitas juga membawa tantangan tersendiri. Jika tekanan terhadap rupiah berasal dari persoalan yang telah berlangsung lama, kepemimpinan baru perlu mencari strategi tambahan tanpa mengorbankan stabilitas moneter.
Rupiah Menjadi Ujian Besar bagi Pemimpin Baru BI
Nilai tukar menjadi salah satu tantangan terbesar yang akan menghadapi kepemimpinan baru. Ekonom senior INDEF Didik J. Rachbini bahkan memberikan pandangan cukup keras. Ia memperkirakan pergantian gubernur tidak otomatis membuat rupiah menguat secara signifikan. Menurut Didik, banyak hambatan berasal dari faktor internal dan eksternal yang sudah terbentuk dalam struktur ekonomi Indonesia. Karena itu, pergantian pemimpin bank sentral saja tidak cukup untuk mengubah arah mata uang dalam jangka panjang.
Didik menyoroti kelemahan sektor eksternal sebagai salah satu persoalan utama. Indonesia memang memiliki ekonomi dan pasar domestik yang besar, tetapi ukuran tersebut tidak otomatis menghasilkan mata uang yang kuat. Struktur ekspor, kebutuhan impor, aliran modal, transaksi berjalan, hingga pergerakan dolar AS ikut menentukan nilai rupiah. Dengan kata lain, Bank Indonesia dapat menjaga volatilitas melalui kebijakan moneter dan intervensi pasar, tetapi BI tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan struktural sendirian. Pemerintah perlu memperkuat industri, ekspor bernilai tambah, produktivitas, serta penerimaan devisa. Karena itu, keberhasilan menjaga rupiah akan membutuhkan koordinasi antara bank sentral, pemerintah, dunia usaha, dan sektor keuangan.
Destry Janji Jaga Independensi Bank Indonesia
Isu independensi menjadi bagian penting dalam proses pergantian kepemimpinan. Destry mengatakan kondisi ekonomi saat ini sangat kompleks sehingga tidak ada satu lembaga yang mampu menyelesaikan semua persoalan sendiri. Menurutnya, Indonesia membutuhkan sinergi yang kuat antarinstansi. Namun, ia secara tegas menyatakan sinergi tersebut tidak akan mengurangi kredibilitas maupun independensi Bank Indonesia. Pernyataan ini menjadi penting karena independensi bank sentral memengaruhi kepercayaan investor terhadap kebijakan moneter Indonesia.
Pasar membutuhkan keyakinan bahwa BI mengambil keputusan suku bunga, pengendalian inflasi, dan stabilisasi rupiah berdasarkan kondisi ekonomi. Destry juga berencana memperkuat koordinasi dengan lembaga pemerintah untuk memantau aliran devisa dan ekspor komoditas. Strategi tersebut dapat membantu BI memahami pergerakan valuta asing dengan lebih baik. Namun, kebijakan tersebut perlu berjalan transparan agar tidak menimbulkan persepsi kontrol berlebihan terhadap aktivitas pasar. Destry akan menghadapi keseimbangan yang tidak mudah: mendukung agenda pertumbuhan pemerintah sekaligus mempertahankan kredibilitas BI sebagai bank sentral independen.
BI Masih Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen
Arah kebijakan pada masa transisi sejauh ini belum menunjukkan perubahan drastis. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 18–19 Agustus 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen. Bank sentral menjelaskan keputusan tersebut konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas rupiah dari dampak tingginya gejolak global, menjaga inflasi pada sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027, serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
BI juga terus memperluas kebijakan untuk menarik aliran modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar. Bank sentral menggunakan operasi moneter rupiah maupun valuta asing untuk mengendalikan kondisi pasar. Operasi tersebut membantu menjaga suku bunga pasar uang tetap sejalan dengan BI-Rate sekaligus mengarahkan pergerakan rupiah agar tetap stabil. Kebijakan ini menunjukkan bahwa stabilisasi rupiah tidak hanya bergantung pada perubahan suku bunga. BI memiliki berbagai instrumen yang dapat digunakan sesuai kondisi pasar. Kepemimpinan Destry nantinya akan menentukan bagaimana bank sentral mengombinasikan instrumen tersebut ketika tekanan global meningkat atau modal asing keluar dari Indonesia.
Rupiah Tidak Hanya Bergantung pada Gubernur BI
Pergantian gubernur dapat memengaruhi sentimen pasar, tetapi fundamental rupiah jauh lebih kompleks. Nilai tukar dipengaruhi kebijakan Federal Reserve, pergerakan dolar AS, harga komoditas, arus modal asing, perdagangan, inflasi, suku bunga, dan persepsi investor terhadap ekonomi Indonesia. Reuters mencatat rupiah termasuk mata uang Asia dengan kinerja lemah sepanjang 2026 dan telah turun sekitar 6 persen terhadap dolar AS ketika laporan mengenai pencalonan Destry muncul. Namun, pengumuman pencalonannya sempat memberikan dorongan positif terhadap rupiah karena pasar melihat Destry sebagai figur yang menawarkan kontinuitas kebijakan.
Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya kepercayaan. Investor tidak hanya menilai level suku bunga, tetapi juga konsistensi kebijakan fiskal dan moneter. Ketika pasar melihat pemerintah dan bank sentral memiliki kebijakan yang dapat diprediksi, risiko investasi dapat menurun. Sebaliknya, ketidakpastian dapat memicu keluarnya modal dan memberikan tekanan terhadap rupiah. Destry karena itu harus menjaga komunikasi kebijakan yang jelas. BI perlu menjelaskan alasan setiap keputusan kepada pasar dan menunjukkan komitmen terhadap inflasi serta stabilitas nilai tukar. Komunikasi dapat menjadi instrumen penting karena ekspektasi pelaku pasar sering kali memengaruhi pergerakan mata uang sebelum perubahan fundamental benar-benar terjadi.
Kepemimpinan Baru Akan Diuji Pasar
Destry Damayanti memasuki fase kepemimpinan BI ketika tantangan ekonomi global dan domestik sama-sama besar. Pasar akan memperhatikan kemampuannya menjaga rupiah, mengendalikan inflasi, mempertahankan independensi bank sentral, serta mendukung pertumbuhan ekonomi. Tantangan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu instrumen. Kenaikan suku bunga dapat membantu rupiah, tetapi juga dapat meningkatkan biaya pembiayaan. Sebaliknya, penurunan suku bunga dapat membantu pertumbuhan dan kredit, tetapi berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang apabila kondisi global tidak mendukung. BI harus mencari keseimbangan antara dua kepentingan tersebut.
Karena itu, pertanyaan mengenai nasib rupiah di bawah pemimpin baru tidak memiliki jawaban sederhana. Destry menawarkan kontinuitas dan pengalaman panjang di dalam Bank Indonesia. Namun, ekonom seperti Didik J. Rachbini mengingatkan bahwa persoalan rupiah tidak berhenti pada sosok gubernur. Struktur ekonomi, kekuatan ekspor, aliran devisa, produktivitas, kebijakan pemerintah, dan kondisi global tetap memiliki pengaruh besar. Destry dapat memperkuat strategi stabilisasi dan meningkatkan kepercayaan pasar, tetapi penguatan rupiah secara berkelanjutan membutuhkan perbaikan fundamental ekonomi. Setelah proses pengesahan dan pelantikan selesai, pasar akan mulai menilai apakah kepemimpinan baru mampu menjaga stabilitas sekaligus membawa kebijakan moneter Indonesia menghadapi lima tahun berikutnya.