Ekonomi

Ekonomi Indonesia 2026 Diproyeksi Bisa Tumbuh hingga 5,6%, tetapi Ada Syaratnya

Jakarta — Ekonomi Indonesia berpeluang mencatat pertumbuhan hingga 5,6 persen sepanjang 2026, tetapi pencapaian tersebut tidak akan terjadi secara otomatis. GREAT Institute mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada kisaran 5,3–5,6 persen dengan melihat ketahanan permintaan domestik, aktivitas dunia usaha, serta investasi yang mulai menguat. Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira menyebut proyeksi tersebut sebagai optimisme yang memiliki sejumlah prasyarat. Indonesia membutuhkan investasi swasta yang lebih kuat dan aktivitas produktif yang terus berkembang pada semester II. Pergeseran tersebut menjadi penting karena konsumsi dan dorongan fiskal memberikan dukungan besar terhadap ekonomi pada semester I. Memasuki paruh kedua tahun ini, sektor swasta perlu mengambil peran lebih besar untuk mempertahankan momentum pertumbuhan.

Optimisme GREAT Institute muncul setelah ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan kumulatif 5,45 persen pada semester I 2026. Pemerintah juga menunjukkan optimisme yang lebih tinggi. Presiden Prabowo Subianto pada 14 Agustus mengatakan dirinya yakin pertumbuhan ekonomi pada akhir 2026 dapat mencapai 6 persen apabila pemerintah menjalankan kebijakan yang tepat dan rasional. Prabowo menyoroti pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I serta 5,45 persen sepanjang semester I sebagai capaian yang kuat. Namun, GREAT Institute menggunakan proyeksi yang lebih konservatif. Lembaga tersebut melihat batas atas 5,6 persen sebagai peluang yang membutuhkan dukungan investasi, produktivitas, stabilitas ekonomi, kualitas kebijakan, dan kepercayaan dunia usaha.

Ekonomi Semester I Sudah Tumbuh 5,45 Persen

Kinerja semester pertama memberikan modal awal yang cukup kuat. Ekonomi Indonesia tumbuh kumulatif 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kebijakan fiskal memberikan dukungan besar karena konsumsi pemerintah tumbuh 18,62 persen. Konsumsi rumah tangga juga masih mampu tumbuh 5,06 persen secara tahunan pada kuartal II. Kombinasi belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat membantu menjaga aktivitas ekonomi ketika kondisi global masih menghadapi ketidakpastian. Pemerintah sendiri menilai capaian semester pertama menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia. Inflasi hingga Juli tetap berada pada level 2,88 persen, sementara indikator manufaktur bertahan di atas level 50. Indeks Keyakinan Konsumen juga masih berada pada level yang menunjukkan optimisme masyarakat.

Namun, angka pertumbuhan yang kuat belum berarti ekonomi bebas dari tekanan. GREAT Institute melihat rumah tangga mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan pendapatan. Penjualan ritel mengalami kontraksi selama April hingga Juni sebelum diperkirakan kembali tumbuh tipis sekitar 0,9 persen pada Juli. Indeks Keyakinan Konsumen juga turun dari 123,0 pada April menjadi 116,8 pada Juli. Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa konsumsi tidak dapat menanggung seluruh beban pertumbuhan pada semester II. Jika rumah tangga semakin selektif, tambahan pertumbuhan perlu datang dari sumber lain. Investasi dan ekspansi dunia usaha akhirnya menjadi kandidat utama untuk mengambil peran tersebut.

Investasi Harus Menjadi Mesin Pertumbuhan Semester II

Investasi memberikan salah satu sinyal paling positif bagi perekonomian Indonesia. Realisasi investasi sepanjang semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Prabowo mengatakan investasi pada periode tersebut telah menciptakan sekitar 1,4 juta lapangan kerja. Angka itu melanjutkan capaian 2025 ketika realisasi investasi mencapai sekitar Rp1.931 triliun dan menciptakan sekitar 2,7 juta pekerjaan. Pertumbuhan investasi memberikan efek lebih luas ketika perusahaan menggunakan modal untuk membangun pabrik, membeli mesin, memperbesar kapasitas produksi, serta merekrut pekerja baru.

Sektor pembiayaan juga menunjukkan perkembangan positif. Kredit investasi pada Juli tumbuh 23,1 persen secara tahunan, sedangkan kredit modal kerja meningkat 11,6 persen. GREAT Institute menilai pemerintah sekarang perlu memastikan pembiayaan tersebut benar-benar berubah menjadi belanja modal swasta dan ekspansi kapasitas produksi. Ketersediaan uang saja tidak cukup jika perusahaan masih memilih menunda investasi. Pemerintah perlu mengurangi hambatan usaha, memberikan kepastian regulasi, mempercepat proyek, serta memastikan likuiditas mengalir menuju kegiatan produktif. Jika proses tersebut berjalan, investasi dapat menggantikan sebagian dorongan fiskal yang sangat kuat pada semester pertama sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Aktivitas Dunia Usaha Masih Memberikan Sinyal Positif

Sejumlah indikator menunjukkan perusahaan masih meningkatkan aktivitas. Konsumsi listrik sektor bisnis tumbuh sekitar 10,04 persen, sementara penggunaan listrik sektor industri meningkat 6,54 persen secara tahunan. Penjualan kendaraan niaga juga tumbuh 30,12 persen hingga Juni 2026. Data tersebut penting karena penggunaan listrik industri dan kendaraan komersial dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas produksi serta distribusi barang. Ketika perusahaan meningkatkan operasi, kebutuhan terhadap energi, logistik, tenaga kerja, dan modal biasanya ikut meningkat. Kondisi tersebut memberikan dasar bagi GREAT Institute untuk mempertahankan proyeksi pertumbuhan hingga 5,6 persen.

Pemerintah juga berusaha menciptakan sumber pertumbuhan baru. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mendorong hilirisasi sekaligus pengembangan industri semikonduktor, kecerdasan buatan, dan ekonomi digital. Ekosistem berbasis nikel yang telah berkembang akan terus diarahkan menuju industri baterai dan kendaraan listrik. Pemerintah juga ingin memanfaatkan kerja sama ekonomi digital regional melalui Digital Economy Framework Agreement. Diversifikasi tersebut dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi dan komoditas. Namun, industri baru membutuhkan tenaga kerja berkualitas, investasi teknologi, infrastruktur, dan aturan yang memberikan kepastian. Jika Indonesia mampu memenuhi kebutuhan tersebut, sektor produktif dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan jangka panjang.

Pemerintah Harus Beralih dari Spending More ke Spending Better

Peran pemerintah tetap penting, tetapi GREAT Institute menilai pendekatannya perlu berubah. Pada semester pertama, stimulus fiskal telah memberikan dorongan besar terhadap ekonomi. Memasuki semester II, pemerintah tidak harus terus memperbesar pengeluaran untuk menciptakan pertumbuhan. Fokus perlu bergeser dari spending more menuju spending better. Artinya, pemerintah harus memastikan setiap rupiah belanja memberikan dampak ekonomi yang lebih besar. Anggaran untuk infrastruktur, pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan program produktif dapat memberikan manfaat lebih panjang ketika pemerintah menjalankannya secara efektif.

Pemerintah juga dapat menggunakan belanja negara sebagai pengungkit investasi swasta. Infrastruktur yang baik menurunkan biaya logistik, sementara pendidikan dan pelatihan meningkatkan kualitas tenaga kerja. Kepastian regulasi dapat mendorong perusahaan memperbesar investasi tanpa pemerintah harus membiayai seluruh proyek secara langsung. Pendekatan tersebut penting karena kapasitas fiskal memiliki batas. Pemerintah tetap harus menjaga defisit dan stabilitas keuangan negara sambil membiayai berbagai program prioritas. Karena itu, kualitas pengeluaran menjadi semakin penting. Pertumbuhan yang bergantung terlalu besar pada stimulus pemerintah akan sulit bertahan dalam jangka panjang. Sebaliknya, pertumbuhan yang mendapatkan dukungan dari investasi dan produktivitas sektor swasta memiliki peluang lebih besar untuk berlanjut.

Ketidakpastian Global dan Kepercayaan Jadi Tantangan

Prospek ekonomi Indonesia tetap menghadapi risiko eksternal. GREAT Institute mencatat rata-rata Global Economic Policy Uncertainty sepanjang semester I berada sekitar 68 persen di atas rata-rata 2024. Sementara itu, Geopolitical Risk Index berada sekitar 55 persen lebih tinggi. Konflik geopolitik, harga energi, kebijakan moneter global yang ketat, dan perubahan arsitektur perdagangan dunia dapat memengaruhi Indonesia melalui ekspor, investasi, nilai tukar, dan harga komoditas. Prabowo juga mengakui kondisi global masih penuh ketidakpastian. Dalam pidato mengenai RAPBN 2027, ia menyinggung kenaikan harga energi akibat perang, tingginya suku bunga global, tekanan nilai tukar, serta ketegangan geopolitik yang mengganggu perdagangan dunia.

Selain kondisi global, GREAT Institute menempatkan kepercayaan sebagai faktor penting. Ketidakpastian kebijakan dapat membuat rumah tangga menunda konsumsi dan perusahaan menahan ekspansi. Pasar juga dapat meminta premi risiko lebih tinggi ketika melihat ketidakpastian meningkat. Sebaliknya, regulasi yang konsisten, data yang kredibel, dan institusi yang bekerja dengan baik dapat meningkatkan keberanian dunia usaha mengambil keputusan jangka panjang. Pemerintah karena itu tidak cukup hanya menyediakan stimulus atau pembiayaan. Pemerintah perlu menciptakan lingkungan yang membuat perusahaan yakin untuk menggunakan modal tersebut. Kepercayaan akhirnya menjadi penghubung antara ketersediaan dana dan investasi nyata yang menghasilkan pabrik, pekerjaan, produksi, serta pendapatan masyarakat.

Ekonomi Bisa Tumbuh 5,6 Persen, tetapi Syaratnya Harus Terpenuhi

Proyeksi pertumbuhan 5,3–5,6 persen menunjukkan ekonomi Indonesia masih memiliki peluang untuk menutup 2026 dengan kinerja yang kuat. Namun, batas atas 5,6 persen tidak akan tercapai hanya dengan mempertahankan pola pertumbuhan semester pertama. Konsumsi rumah tangga memang tetap menjadi fondasi, tetapi tekanan terhadap daya beli mulai membutuhkan perhatian. Pemerintah juga telah memberikan dorongan fiskal cukup besar. Karena itu, semester II membutuhkan kontribusi lebih kuat dari investasi, ekspansi perusahaan, produktivitas industri, dan penciptaan lapangan kerja. Realisasi investasi Rp1.010,6 triliun serta pertumbuhan kredit investasi memberikan modal awal yang positif. Tantangannya adalah mengubah modal tersebut menjadi kapasitas produksi nyata.

Optimisme pemerintah bahkan lebih tinggi. Prabowo percaya ekonomi Indonesia dapat mencapai 6 persen pada akhir 2026. GREAT Institute mengambil posisi yang lebih hati-hati dengan proyeksi 5,3–5,6 persen. Kedua pandangan tersebut sama-sama melihat Indonesia memiliki fondasi domestik yang cukup kuat, tetapi tantangan berikutnya berada pada kemampuan menjaga momentum. Jika investasi swasta terus meningkat, regulasi memberikan kepastian, belanja pemerintah semakin produktif, daya beli terjaga, dan ketidakpastian global tidak memburuk secara drastis, peluang menuju 5,6 persen tetap terbuka. Namun, angka pertumbuhan bukan satu-satunya tujuan. Indonesia juga perlu memastikan pertumbuhan menghasilkan pekerjaan yang lebih baik, peningkatan produktivitas, pendapatan masyarakat yang lebih tinggi, serta fondasi ekonomi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *