Politik

Target Terbesar Sepanjang Sejarah, Pemerintah Bidik Revitalisasi 71.744 Sekolah pada 2026

Pemerintah Indonesia memasang target besar dalam pembangunan sektor pendidikan pada 2026. Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, pemerintah menargetkan perbaikan terhadap 71.744 satuan pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan tajam dibandingkan program revitalisasi pada tahun sebelumnya. Pada 2025, pemerintah menyelesaikan revitalisasi terhadap 16.167 satuan pendidikan. Sementara pada 2026, pemerintah ingin memperluas jangkauan program hingga lebih dari empat kali lipat.

Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan untuk memperluas program tersebut. Pemerintah sebelumnya mengalokasikan anggaran untuk 11.744 satuan pendidikan. Setelah itu, muncul rencana penambahan sekitar 60.000 satuan pendidikan sehingga target keseluruhan mencapai 71.744 sekolah.

Target besar tersebut memperlihatkan ambisi pemerintah untuk mempercepat perbaikan fasilitas pendidikan di berbagai daerah.

Namun, angka 71.744 bukan jumlah sekolah yang sudah selesai diperbaiki. Angka tersebut merupakan target revitalisasi sepanjang 2026. Pemerintah masih harus menyelesaikan berbagai tahapan agar seluruh sasaran tersebut dapat terealisasi.

Dari 16.167 Sekolah Menjadi Target 71.744 Sekolah

Program revitalisasi sekolah sebenarnya telah berjalan pada tahun sebelumnya.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat program revitalisasi pada 2025 telah terlaksana terhadap 16.167 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.

Pemerintah kemudian meningkatkan target secara signifikan pada 2026.

Pada tahap awal, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp13,4 triliun untuk revitalisasi 11.744 satuan pendidikan. Presiden Prabowo kemudian mengarahkan perluasan program dengan tambahan sekitar 60.000 satuan pendidikan.

Jika rencana tersebut terealisasi sepenuhnya, jumlah sekolah yang masuk program revitalisasi pada 2026 akan mencapai 71.744 satuan pendidikan.

Kenaikan tersebut tentu bukan angka kecil.

Target itu mencakup satuan pendidikan dari berbagai jenjang. Pemerintah ingin memperbaiki fasilitas pendidikan mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah.

Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya berbicara mengenai kurikulum, guru atau sistem pembelajaran. Kondisi fisik sekolah juga menentukan kualitas lingkungan belajar bagi siswa.

Mengapa Revitalisasi Sekolah Menjadi Penting?

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar.

Namun, kondisi fasilitas pendidikan di Indonesia tidak selalu sama.

Sebagian sekolah memiliki ruang kelas yang baik, fasilitas lengkap dan lingkungan belajar yang nyaman. Di sisi lain, masih terdapat sekolah yang menghadapi persoalan bangunan rusak, ruang kelas tidak memadai hingga fasilitas pendukung yang terbatas.

Persoalan tersebut semakin terasa di sejumlah daerah yang jauh dari pusat kota.

Karena itu, pemerintah menjadikan revitalisasi sebagai salah satu cara untuk memperkecil kesenjangan fasilitas pendidikan.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada mempercantik bangunan sekolah. Revitalisasi dapat mencakup perbaikan ruang kelas, toilet, perpustakaan, laboratorium, fasilitas sanitasi dan sarana pendukung lainnya sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.

Kondisi bangunan yang lebih baik dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman.

Siswa tidak perlu belajar dengan rasa khawatir terhadap atap bocor, dinding rusak atau fasilitas yang tidak layak. Guru juga dapat menjalankan kegiatan belajar mengajar dalam kondisi yang lebih mendukung.

Daerah 3T Menjadi Salah Satu Prioritas

Pemerintah juga memberikan perhatian kepada sekolah yang berada di daerah tertinggal, terdepan dan terluar atau 3T.

Sekolah di wilayah tersebut sering menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan sekolah di kota besar.

Jarak yang jauh, akses transportasi, keterbatasan infrastruktur hingga biaya pembangunan dapat memperlambat peningkatan fasilitas pendidikan.

Karena itu, program revitalisasi memiliki peran penting dalam mendorong pemerataan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti sebelumnya menjelaskan bahwa pemerintah memberikan prioritas kepada sekolah di daerah 3T, sekolah yang mengalami kerusakan berat serta sekolah yang terdampak bencana.

Prioritas tersebut menjadi penting karena kebutuhan setiap sekolah tidak sama.

Ada sekolah yang hanya membutuhkan perbaikan ringan. Namun, ada pula sekolah yang membutuhkan rehabilitasi besar agar kegiatan belajar dapat berlangsung dengan aman.

Pemerintah perlu menentukan prioritas berdasarkan kondisi nyata di lapangan agar anggaran memberikan manfaat sebesar mungkin.

Revitalisasi Sekolah Juga Menggerakkan Ekonomi Daerah

Program revitalisasi sekolah ternyata tidak hanya memberikan dampak kepada sektor pendidikan.

Pemerintah juga mengaitkan program tersebut dengan pergerakan ekonomi masyarakat di sekitar sekolah.

Pelaksanaan revitalisasi menggunakan mekanisme swakelola. Dengan skema tersebut, satuan pendidikan dapat melibatkan masyarakat sekitar dalam proses pembangunan dan perbaikan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut program revitalisasi 71.744 sekolah berpotensi melibatkan sekitar 1,1 juta orang.

Mereka dapat bekerja dalam rentang beberapa bulan selama proses revitalisasi berlangsung.

Artinya, anggaran pembangunan sekolah tidak hanya menghasilkan fasilitas pendidikan baru atau bangunan yang lebih baik. Uang tersebut juga dapat berputar di lingkungan masyarakat.

Pekerja lokal memperoleh kesempatan kerja. Pelaku usaha dapat menyediakan bahan bangunan dan kebutuhan proyek. UMKM di sekitar lokasi juga berpotensi mendapatkan aktivitas ekonomi tambahan.

Model seperti ini membuat program pendidikan memiliki efek yang lebih luas.

Tantangan Besar di Balik Target 71.744 Sekolah

Target besar tentu membawa tantangan yang tidak kecil.

Merevitalisasi puluhan ribu sekolah dalam satu tahun membutuhkan perencanaan, anggaran, tenaga kerja dan pengawasan yang kuat.

Pemerintah juga harus memastikan setiap sekolah menerima bantuan berdasarkan kebutuhan.

Kondisi geografis Indonesia membuat tantangan tersebut semakin kompleks.

Memperbaiki sekolah di wilayah perkotaan tentu berbeda dengan memperbaiki sekolah di daerah terpencil atau kepulauan.

Distribusi material, ketersediaan pekerja dan akses menuju lokasi dapat memengaruhi waktu pengerjaan.

Selain itu, pemerintah perlu menjaga kualitas pembangunan.

Target jumlah sekolah yang besar tidak akan berarti banyak jika pengerjaan hanya mengejar angka. Bangunan yang selesai harus memiliki kualitas yang baik dan dapat digunakan dalam jangka panjang.

Karena itu, pengawasan menjadi bagian penting dalam program ini.

Anggaran Menjadi Faktor Penentu

Target 71.744 sekolah juga membutuhkan dukungan anggaran yang sangat besar.

Pada tahap awal program 2026, pemerintah telah mengalokasikan sekitar Rp13,4 triliun untuk 11.744 satuan pendidikan.

Sementara itu, rencana penambahan sekitar 60.000 sekolah masih membutuhkan proses pembahasan dan penganggaran lebih lanjut.

Fakta tersebut penting untuk dipahami.

Target 71.744 sekolah menunjukkan arah kebijakan pemerintah, tetapi realisasinya tetap bergantung pada kesiapan anggaran dan pelaksanaan program.

Pemerintah harus memastikan perluasan program tidak mengorbankan kualitas pembangunan.

Setiap rupiah yang keluar harus menghasilkan perubahan nyata bagi sekolah dan peserta didik.

Transparansi juga memiliki peran penting. Masyarakat perlu mengetahui sekolah mana yang menerima program, nilai bantuan yang diberikan serta perkembangan pengerjaannya.

Dengan pengawasan yang terbuka, pemerintah dapat mengurangi risiko penyalahgunaan anggaran sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Bukan Sekadar Memperbaiki Gedung

Keberhasilan program revitalisasi tidak seharusnya hanya dinilai dari jumlah bangunan yang selesai.

Tujuan akhirnya tetap berkaitan dengan kualitas pendidikan.

Gedung yang baik memang tidak otomatis membuat siswa menjadi lebih pintar. Namun, lingkungan belajar yang aman dan nyaman memberikan fondasi yang lebih baik bagi proses pendidikan.

Bayangkan siswa harus belajar setiap hari di ruang kelas dengan atap bocor atau dinding yang mulai rusak.

Kondisi tersebut tentu dapat mengganggu konsentrasi dan kenyamanan.

Sebaliknya, ruang kelas yang layak memberikan kesempatan kepada siswa dan guru untuk lebih fokus pada proses pembelajaran.

Fasilitas seperti toilet bersih, perpustakaan, laboratorium dan ruang belajar yang memadai juga dapat meningkatkan kualitas pengalaman siswa selama berada di sekolah.

Karena itu, pembangunan fisik tetap menjadi salah satu unsur penting dalam peningkatan mutu pendidikan.

Pemerintah Perlu Membuktikan Target Besar Ini

Target revitalisasi 71.744 sekolah pada 2026 layak mendapat perhatian.

Skalanya jauh lebih besar dibandingkan capaian 16.167 satuan pendidikan pada 2025.

Namun, target besar juga menciptakan ekspektasi besar.

Pemerintah perlu membuktikan bahwa program tersebut benar-benar berjalan hingga sekolah yang membutuhkan bantuan.

Masyarakat tidak hanya membutuhkan angka.

Mereka membutuhkan perubahan yang dapat dilihat secara langsung.

Sekolah dengan ruang kelas rusak harus mendapatkan perbaikan. Siswa di daerah terpencil harus memperoleh fasilitas yang lebih layak. Guru juga harus mendapatkan lingkungan kerja yang mendukung kegiatan belajar mengajar.

Jika pemerintah mampu menjalankan program tersebut secara efektif, revitalisasi sekolah dapat menjadi salah satu proyek pendidikan dengan jangkauan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Sebaliknya, jika pelaksanaannya tidak sesuai rencana, angka 71.744 hanya akan menjadi target di atas kertas.

71.744 Sekolah Menjadi Ujian Besar Pemerintah

Program revitalisasi sekolah pada akhirnya bukan perlombaan untuk menghasilkan angka terbesar.

Hal yang jauh lebih penting adalah dampaknya.

Target 71.744 satuan pendidikan menunjukkan bahwa pemerintah ingin mempercepat perbaikan infrastruktur pendidikan dalam skala nasional. Program ini juga membuka kesempatan untuk memperkecil kesenjangan fasilitas antara sekolah di kota besar dan sekolah di daerah.

Pemerintah telah memiliki pengalaman dari revitalisasi 16.167 satuan pendidikan pada 2025. Pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk menjalankan program yang jauh lebih besar pada 2026.

Namun, peningkatan skala lebih dari empat kali lipat tentu membutuhkan pengawasan yang lebih kuat.

Pemerintah harus menjaga kualitas pembangunan, memastikan anggaran tepat sasaran dan memberikan prioritas kepada sekolah yang benar-benar membutuhkan.

Jika seluruh target dapat terealisasi dengan baik, puluhan ribu sekolah akan mendapatkan lingkungan belajar yang lebih layak. Jutaan siswa dan guru juga berpotensi merasakan manfaatnya secara langsung.

Pada akhirnya, keberhasilan program revitalisasi 71.744 sekolah tidak akan ditentukan oleh seberapa besar angka yang diumumkan pemerintah.

Keberhasilannya akan terlihat ketika siswa memasuki ruang kelas yang lebih aman, guru mengajar dengan fasilitas yang lebih baik dan sekolah di berbagai pelosok Indonesia mendapatkan kesempatan yang lebih setara.

Targetnya sudah ditetapkan. Kini, publik menunggu bagaimana pemerintah mengubah angka 71.744 tersebut menjadi perubahan nyata bagi pendidikan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *