Ekonomi

Pemerintah Soroti Syarat “Good Looking” dalam Rekrutmen Kerja, Perusahaan Diminta Lebih Objektif

Mencari pekerjaan bukan hanya soal pengalaman dan kemampuan. Dalam sejumlah lowongan kerja, pencari kerja terkadang masih menemukan persyaratan tambahan yang berkaitan dengan penampilan fisik. Salah satu istilah yang cukup sering menjadi perhatian adalah “good looking”.

Persyaratan seperti ini kemudian mendapat perhatian pemerintah. Kementerian Ketenagakerjaan mendorong perusahaan agar menjalankan proses rekrutmen secara objektif dan tidak menggunakan persyaratan yang berpotensi diskriminatif apabila tidak berkaitan langsung dengan pekerjaan.

Hal tersebut menjadi kabar penting bagi pencari kerja. Sebab, perusahaan seharusnya melihat kemampuan seseorang melalui kompetensi, pengalaman, pendidikan, dan keterampilan yang relevan. Penampilan fisik tidak semestinya menjadi faktor utama jika pekerjaan memang tidak membutuhkannya.

Pemerintah Dorong Rekrutmen Kerja yang Lebih Adil

Pemerintah sebelumnya menerbitkan Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/V/2025 tentang Larangan Diskriminasi dalam Proses Rekrutmen Tenaga Kerja.

Melalui kebijakan tersebut, pemerintah meminta perusahaan memperhatikan prinsip kesetaraan dalam proses penerimaan pekerja. Perusahaan juga perlu memastikan setiap persyaratan memiliki hubungan dengan kebutuhan pekerjaan.

Dengan demikian, perusahaan tidak seharusnya mencantumkan kriteria fisik secara sembarangan.

Misalnya, sebuah perusahaan membutuhkan programmer. Dalam kasus tersebut, kemampuan menulis kode, memecahkan masalah, memahami teknologi, dan bekerja dalam tim tentu jauh lebih relevan dibandingkan bentuk wajah atau tinggi badan.

Hal serupa berlaku untuk banyak pekerjaan lainnya.

Perusahaan dapat menilai calon pekerja melalui portofolio, pengalaman, kemampuan komunikasi, hasil tes, maupun keterampilan teknis. Cara tersebut memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kemampuan seorang kandidat.

Mengapa Syarat “Good Looking” Menjadi Persoalan?

Istilah good looking memiliki masalah mendasar karena sifatnya sangat subjektif. Setiap orang dapat memiliki standar berbeda ketika menilai penampilan seseorang.

Seseorang mungkin terlihat menarik bagi satu orang, tetapi belum tentu bagi orang lain. Karena itu, perusahaan akan kesulitan membuat ukuran objektif jika hanya menggunakan istilah tersebut.

Berbeda halnya dengan persyaratan seperti menguasai Microsoft Excel, memiliki kemampuan bahasa Inggris, memahami bahasa pemrograman tertentu, atau memiliki pengalaman kerja selama beberapa tahun. Perusahaan dapat mengukur kemampuan tersebut melalui tes maupun pengalaman kandidat.

Persyaratan yang jelas juga membantu pencari kerja memahami kebutuhan perusahaan.

Karena alasan itulah perusahaan sebaiknya menjelaskan kompetensi yang mereka cari daripada menggunakan istilah yang memiliki penafsiran sangat luas.

Bukan Berarti Penampilan Tidak Penting Sama Sekali

Meski demikian, kebijakan mengenai diskriminasi dalam rekrutmen bukan berarti perusahaan harus mengabaikan penampilan dalam setiap kondisi.

Beberapa pekerjaan memang membutuhkan standar tertentu karena berhubungan dengan tugas yang akan pekerja jalankan. Namun, perusahaan perlu memiliki alasan yang relevan ketika menetapkan persyaratan tersebut.

Ada pula perbedaan besar antara meminta calon pekerja berpenampilan rapi dan profesional dengan meminta seseorang harus good looking.

Berpenampilan rapi dapat berkaitan dengan cara seseorang membawa diri di lingkungan profesional. Sementara itu, istilah good looking cenderung mengarah pada penilaian fisik yang subjektif.

Untuk pekerjaan yang berhubungan langsung dengan pelanggan, misalnya, perusahaan dapat mencari kandidat yang ramah, komunikatif, mampu menangani keluhan, dan menjaga penampilan tetap rapi.

Kriteria tersebut jauh lebih jelas.

Perusahaan Bisa Fokus pada Kompetensi

Perubahan cara pandang dalam proses rekrutmen juga dapat membantu perusahaan mendapatkan kandidat yang lebih tepat.

Ketika perusahaan terlalu fokus pada persyaratan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan, mereka berisiko kehilangan calon pekerja berkualitas.

Seorang kandidat mungkin tidak sesuai dengan standar penampilan tertentu, tetapi memiliki pengalaman panjang dan kemampuan yang sangat dibutuhkan perusahaan.

Sebaliknya, penampilan menarik tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang mampu menjalankan pekerjaan dengan baik.

Karena itu, perusahaan dapat menggunakan berbagai metode untuk menemukan kandidat terbaik. Tes kemampuan, wawancara, pemeriksaan portofolio, hingga simulasi pekerjaan dapat memberikan informasi yang lebih berguna.

Cara tersebut juga membuat proses seleksi lebih masuk akal bagi pencari kerja.

Pencari Kerja Tetap Perlu Mempersiapkan Diri

Bagi pencari kerja, dorongan terhadap proses rekrutmen yang lebih objektif bukan berarti persaingan mendapatkan pekerjaan menjadi lebih mudah.

Perusahaan tetap akan mencari kandidat terbaik.

Karena itu, pencari kerja perlu meningkatkan kemampuan yang sesuai dengan bidangnya. Mereka dapat mengikuti pelatihan, membangun portofolio, meningkatkan kemampuan komunikasi, atau memperoleh pengalaman baru.

Penampilan profesional juga tetap penting. Datang ke wawancara dengan pakaian rapi, menjaga kebersihan, serta menunjukkan sikap sopan dapat memberikan kesan positif.

Namun, hal tersebut berbeda dengan standar kecantikan atau ketampanan seseorang.

Pada akhirnya, kompetensi tetap menjadi modal penting dalam dunia kerja.

Rekrutmen Kerja Perlu Semakin Objektif

Dorongan pemerintah terhadap proses rekrutmen yang bebas diskriminasi menunjukkan adanya perhatian terhadap kesempatan kerja yang lebih adil.

Perusahaan tentu memiliki hak untuk menentukan kriteria calon pekerja. Namun, mereka juga perlu memastikan kriteria tersebut sesuai dengan kebutuhan posisi yang tersedia.

Daripada sekadar mencantumkan syarat “good looking”, perusahaan dapat menjelaskan kemampuan yang benar-benar mereka butuhkan. Langkah sederhana tersebut dapat membuat proses seleksi menjadi lebih jelas bagi kedua belah pihak.

Pencari kerja mengetahui kemampuan yang harus mereka persiapkan. Sementara itu, perusahaan memiliki peluang lebih besar untuk menemukan orang yang benar-benar cocok dengan pekerjaan.

Pada akhirnya, wajah menarik tidak menentukan kemampuan seseorang dalam bekerja. Pengalaman, keterampilan, sikap profesional, dan kemampuan menjalankan pekerjaan seharusnya mendapatkan porsi penilaian yang jauh lebih besar.

Dengan proses rekrutmen yang semakin objektif, kesempatan kerja juga dapat terbuka bagi lebih banyak orang tanpa harus terhalang oleh standar penampilan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *