Puluhan Ribu Warga Kroasia Turun ke Jalan, Desak Pemerintah Bersihkan 37 Ribu Ton Limbah Berbahaya
Puluhan ribu warga Kroasia memadati pusat Zagreb pada Sabtu, 5 September 2026, untuk mendesak pemerintah segera menangani limbah berbahaya di Kroasia yang menumpuk di wilayah Lika. Massa menuntut pembersihan cepat terhadap puluhan ribu ton sampah industri, elektronik, konstruksi, plastik, dan medis yang tersimpan di sekitar kota Gospic. Aksi bertajuk “Walk for Lika” menjadi salah satu demonstrasi lingkungan terbesar di Kroasia dalam beberapa tahun terakhir. Warga menilai pemerintah terlalu lambat mengambil tindakan meski temuan awal menunjukkan potensi pencemaran tanah dan air tanah. Reuters memperkirakan volume limbah yang bermasalah berada di kisaran 34.000 hingga 37.000 ton.
Protes itu berkembang menjadi isu politik nasional karena warga tidak hanya menyoroti pencemaran. Mereka juga mempertanyakan pengawasan pemerintah, proses impor limbah dari negara lain, serta kemungkinan kegagalan institusi dalam mencegah penumpukan bahan berbahaya selama bertahun-tahun. Sejumlah demonstran membawa poster yang menuntut udara bersih, air aman, dan pertanggungjawaban pejabat. Pemerintah Kroasia menyatakan proses pembersihan sudah bergerak dan kontraktor untuk tahap awal telah dipilih. Namun, massa menilai langkah tersebut datang terlalu lambat dan belum menjawab kekhawatiran tentang dampak jangka panjang terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat.
Puluhan Ribu Warga Penuhi Pusat Zagreb
Demonstrasi berlangsung di alun-alun pusat Zagreb dan menarik peserta dari berbagai daerah. Reuters menyebut puluhan ribu orang berkumpul untuk menuntut tindakan lebih cepat atas krisis limbah di Lika. Banyak peserta datang membawa pesan yang menekankan kerusakan lingkungan dan bahaya terhadap kesehatan. Salah satu slogan yang muncul menyatakan bahwa “paru-paru Kroasia” tidak lagi bisa bernapas. Demonstran juga membawa pesan yang menolak kerusakan lebih lanjut terhadap wilayah yang selama ini dikenal memiliki hutan, sungai, dan sistem air bawah tanah yang sensitif.
Aksi tersebut tidak hanya melibatkan aktivis lingkungan. Tokoh publik Kroasia ikut hadir, termasuk aktor Rade Serbedzija. Kehadiran figur terkenal memperluas perhatian media dan menguatkan tekanan terhadap pemerintah. Para peserta menilai persoalan limbah sudah melampaui masalah teknis. Menurut mereka, pemerintah harus menjelaskan siapa yang bertanggung jawab, mengapa limbah bisa masuk dan tersimpan dalam jumlah besar, serta kapan pembersihan total akan selesai.
Associated Press juga melaporkan bahwa massa menuntut rencana pembersihan yang jelas, larangan impor limbah tertentu, dan proses hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab. Banyak peserta menyatakan mereka tidak lagi percaya pada janji tanpa tenggat waktu. Mereka ingin pemerintah menyampaikan jadwal konkret dan membuka informasi secara transparan.
Tekanan publik meningkat karena warga Lika telah menyuarakan kekhawatiran sejak lama. Mereka menilai potensi kontaminasi tidak hanya mengancam kawasan sekitar tempat pembuangan, tetapi juga bisa menyebar melalui sistem air tanah. Kondisi geografis Lika membuat isu tersebut semakin sensitif.
Sekitar 37 Ribu Ton Limbah Jadi Pusat Kemarahan Publik
Otoritas menemukan sekitar 34.000 hingga 37.000 ton limbah di sekitar Gospic. Reuters melaporkan sebagian besar sampah itu berasal dari luar Kroasia dan masuk terutama pada periode 2023 hingga 2024. Sebagian bahan berasal dari Italia. Associated Press menambahkan bahwa limbah juga berasal dari Slovenia dan Jerman. Jenis sampah yang tercatat mencakup limbah elektronik, konstruksi, plastik, medis, dan material industri lainnya.
Skala volume tersebut menjelaskan mengapa warga menilai persoalan ini bukan insiden kecil. Puluhan ribu ton material menumpuk di area yang tidak memiliki perlindungan memadai. Sebagian material tersimpan di lokasi industri terbengkalai dan sebagian lainnya terkubur di bawah tanah. Kondisi itu meningkatkan risiko pencemaran jangka panjang apabila pemerintah tidak segera mengangkat dan memproses limbah tersebut secara aman.
Laporan lembaga antikorupsi Kroasia USKOK menambah kekhawatiran masyarakat. AP menyebut pemeriksaan awal menemukan konsentrasi logam tertentu dan senyawa PFAS di tanah serta air tanah sekitar lokasi. PFAS merupakan kelompok bahan kimia yang sulit terurai dan dapat bertahan lama di lingkungan. Temuan tersebut membuat isu pembersihan semakin mendesak karena warga khawatir kontaminasi dapat bergerak keluar dari area awal.
Masyarakat juga mempertanyakan bagaimana volume limbah sebesar itu dapat masuk tanpa pengawasan yang memadai. Pertanyaan itu berubah menjadi tuntutan politik. Demonstran meminta pemerintah menjelaskan peran perusahaan swasta, pejabat lokal, dan lembaga pengawasan yang seharusnya mengontrol arus limbah lintas negara.
Kekhawatiran Terbesar Ada pada Tanah dan Air
Wilayah Lika memiliki karakter geologi karst. Kondisi ini membuat air dapat bergerak melalui retakan batu kapur dan jaringan bawah tanah dengan cepat. Karena itu, pencemaran di satu titik berpotensi menyebar ke wilayah yang lebih luas. Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa zat berbahaya dapat mencapai sumber air, sungai, bahkan sistem yang terhubung ke kawasan Adriatik.
Risiko tersebut membuat isu limbah di Gospic berbeda dari persoalan sampah perkotaan biasa. Jika kontaminasi hanya berada di permukaan, pemerintah dapat fokus pada pengangkutan dan pembersihan lokal. Namun, jika bahan kimia sudah masuk ke tanah dan air bawah tanah, proses pemulihan dapat memerlukan waktu bertahun-tahun.
Warga juga khawatir terhadap dampak kesehatan. Mereka menuntut pemerintah melakukan pengujian air secara berkala dan membuka seluruh hasil laboratorium kepada publik. Selain itu, demonstran meminta pengawasan kesehatan jangka panjang bagi masyarakat yang tinggal dekat kawasan terdampak.
Reuters melaporkan kelompok lingkungan menilai polusi sudah mengancam udara, tanah, dan air minum. Mereka menuduh pemerintah terlalu lambat merespons temuan awal. Pemerintah membantah bahwa mereka tidak bekerja dan menyatakan proses pembersihan sudah berjalan. Namun, perbedaan persepsi antara pejabat dan warga tetap lebar.
Krisis kepercayaan inilah yang membuat demonstrasi membesar. Bagi banyak peserta, masalah utama bukan hanya volume limbah. Mereka juga menilai pemerintah gagal memberikan kepastian bahwa lingkungan dan kesehatan masyarakat menjadi prioritas utama.
Pemerintah Kroasia Janji Mulai Pembersihan
Perdana Menteri Andrej Plenkovic mengatakan pemerintah telah memilih kontraktor untuk tahap pertama pembersihan. Reuters menyebut pengumuman itu datang menjelang demonstrasi besar di Zagreb. Pemerintah ingin menunjukkan bahwa penanganan sudah bergerak dan tidak berhenti pada tahap investigasi.
Namun, massa tetap tidak puas. Mereka menilai tahap pertama belum cukup karena skala persoalan sangat besar. Demonstran juga mempertanyakan berapa banyak limbah yang akan masuk dalam tahap awal, berapa lama proses berjalan, dan kapan pemerintah akan membersihkan seluruh lokasi.
Associated Press melaporkan Plenkovic menilai sebagian kemarahan publik memiliki motif politik. Pernyataan itu justru memicu kritik baru dari kelompok masyarakat yang merasa pemerintah mengecilkan kekhawatiran lingkungan. Bagi warga, isu utama tetap sederhana: mereka ingin lingkungan dibersihkan dan pihak yang bertanggung jawab menjalani proses hukum.
Pemerintah juga menghadapi tekanan untuk memperketat aturan impor limbah. Para demonstran meminta Kroasia tidak lagi menjadi tujuan material berbahaya dari negara lain. Tuntutan ini memiliki dimensi lebih luas karena Kroasia merupakan anggota Uni Eropa dan terikat pada aturan pergerakan barang serta pengelolaan limbah lintas batas.
Uni Eropa sendiri sedang memperketat kebijakan ekspor limbah. Reuters melaporkan Komisi Eropa menyiapkan larangan yang lebih luas terhadap ekspor limbah tertentu ke negara non-OECD. Meski kebijakan tersebut berbeda konteks dengan kasus Kroasia, perkembangan itu menunjukkan bahwa persoalan perdagangan limbah sedang mendapat perhatian besar di Eropa.
Protes Lingkungan Berubah Menjadi Tekanan Politik Nasional
Demonstrasi di Zagreb menunjukkan bahwa isu lingkungan dapat dengan cepat berubah menjadi krisis politik apabila warga menilai pemerintah kehilangan kendali. Dalam kasus Gospic, masyarakat tidak hanya menuntut pembersihan. Mereka meminta keterbukaan data, proses hukum, evaluasi pengawasan, dan perubahan aturan impor.
Aksi ini juga memperlihatkan meningkatnya sensitivitas masyarakat Eropa terhadap pencemaran lintas batas. Banyak warga mempertanyakan mengapa negara mereka menerima limbah dari luar ketika kapasitas pengelolaan domestik belum memadai. Pertanyaan tersebut semakin kuat ketika jenis material yang masuk mencakup limbah medis dan bahan industri.
Bagi pemerintah Plenkovic, tantangan utama sekarang adalah mengubah janji menjadi hasil yang terlihat. Jika kontraktor mulai bekerja dan volume limbah turun secara nyata, tekanan publik dapat mereda. Namun, jika proses kembali tertunda, protes serupa bisa muncul dalam skala lebih besar.
Isu ini juga berpotensi memengaruhi kepercayaan terhadap institusi. Warga ingin mengetahui apakah pejabat mengabaikan pelanggaran, apakah perusahaan memperoleh izin yang semestinya, dan apakah sistem pengawasan gagal sejak awal. Pemerintah perlu menjawab pertanyaan tersebut secara terbuka agar krisis tidak berkembang menjadi persoalan politik yang lebih luas.
Limbah Berbahaya di Kroasia Jadi Simbol Kemarahan Baru
Aksi puluhan ribu warga di Zagreb membuat limbah berbahaya di Kroasia berubah dari masalah lokal menjadi isu nasional. Temuan sekitar 37.000 ton sampah di wilayah Lika, potensi pencemaran tanah dan air, serta keterlibatan limbah impor menciptakan kombinasi yang sulit diabaikan.
Pemerintah sudah mengambil langkah awal dengan menunjuk kontraktor pembersihan. Namun, masyarakat menuntut lebih dari itu. Mereka ingin tenggat waktu yang jelas, pengawasan publik, larangan terhadap praktik impor yang berisiko, dan pertanggungjawaban hukum bagi pihak yang menyebabkan pencemaran.
Perkembangan berikutnya akan menentukan apakah pemerintah mampu memulihkan kepercayaan. Jika proses pembersihan berjalan lambat, demonstrasi ini bisa menjadi awal dari tekanan politik yang lebih besar. Sebaliknya, tindakan cepat dan transparan dapat membantu meredakan kemarahan.
Untuk saat ini, pesan dari Zagreb sangat jelas. Warga tidak ingin menunggu sampai dampak pencemaran menjadi lebih luas. Mereka menuntut pemerintah bertindak sebelum kerusakan lingkungan berubah menjadi masalah kesehatan dan ekonomi yang lebih sulit diperbaiki.