Foxconn Prediksi Kuartal III Lampaui Ekspektasi, Permintaan AI Dorong Pendapatan Rekor
Foxconn memperkirakan kinerja kuartal ketiga 2026 akan melampaui ekspektasi pasar setelah permintaan terhadap server dan produk berbasis kecerdasan buatan terus meningkat. Perusahaan manufaktur elektronik asal Taiwan tersebut melaporkan pendapatan Agustus mencapai T$921,8 miliar, atau sekitar US$29,15 miliar, naik hampir 52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu sekaligus menjadi rekor pendapatan Agustus tertinggi perusahaan dan menandai bulan kedua berturut-turut ketika penjualan Foxconn menembus T$900 miliar. Kinerja tersebut memperkuat keyakinan bahwa Foxconn dan permintaan AI akan menjadi salah satu kombinasi terkuat dalam industri teknologi global pada paruh kedua 2026.
Foxconn, yang secara resmi bernama Hon Hai Precision Industry Co Ltd, merupakan salah satu produsen elektronik kontrak terbesar di dunia. Perusahaan itu dikenal luas sebagai pemasok utama Apple, tetapi dalam beberapa tahun terakhir bisnis server AI berkembang menjadi sumber pertumbuhan baru yang semakin penting. Foxconn juga menjadi salah satu pemasok besar server untuk Nvidia ketika perusahaan teknologi dan operator pusat data memperbesar belanja infrastruktur kecerdasan buatan. Tren tersebut kini terlihat langsung dalam pendapatan perusahaan, laba kuartalan, dan ekspektasi manajemen terhadap sisa tahun 2026.
Foxconn Prediksi Kuartal III Melampaui Ekspektasi Pasar
Foxconn menyatakan kinerja pada kuartal ketiga kemungkinan akan lebih baik daripada perkiraan pasar. Perusahaan tidak memberikan angka proyeksi secara spesifik, tetapi menyebut visibilitas bisnis semakin membaik berkat tingginya permintaan produk AI dan masuknya musim puncak tradisional untuk produk teknologi informasi serta komunikasi.
Kuartal ketiga memang biasanya menjadi periode penting bagi Foxconn. Banyak pelanggan elektronik global meningkatkan produksi menjelang musim belanja akhir tahun, sementara peluncuran perangkat baru biasanya berlangsung pada periode tersebut. Namun, pada 2026 faktor musiman bukan lagi satu-satunya pendorong. Server AI berkembang menjadi mesin pertumbuhan yang semakin besar dan membantu perusahaan mengurangi ketergantungan terhadap produk elektronik konsumen.
Manajemen menilai kombinasi antara permintaan AI dan pola musiman industri akan menjaga momentum sepanjang kuartal ketiga. Pernyataan itu muncul setelah Foxconn membukukan kenaikan laba 35 persen pada kuartal kedua dan melampaui perkiraan analis. Kinerja tersebut sebelumnya sudah menunjukkan bahwa investasi besar perusahaan di sektor server AI mulai memberikan hasil finansial yang nyata.
Ekspektasi yang lebih tinggi juga datang ketika pasar teknologi global masih memperlihatkan selera investasi besar terhadap infrastruktur kecerdasan buatan. Nvidia, Dell, Broadcom, dan berbagai perusahaan lain baru-baru ini mengeluarkan proyeksi yang menunjukkan permintaan AI belum kehilangan momentum. Dell, misalnya, kembali menaikkan target pendapatan tahunannya setelah penjualan server AI melesat dan menghasilkan rekor pendapatan kuartalan.
Kondisi tersebut membuat Foxconn berada di posisi strategis. Perusahaan tidak hanya merakit perangkat konsumen, tetapi juga memproduksi sistem komputasi yang menjadi tulang punggung pusat data AI.
Pendapatan Agustus Capai Rekor T$921,8 Miliar
Indikator paling jelas dari kekuatan bisnis Foxconn terlihat pada laporan pendapatan Agustus. Perusahaan membukukan penjualan sebesar T$921,8 miliar, meningkat 51,98 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan itu juga melampaui T$900 miliar untuk bulan kedua berturut-turut.
Lonjakan tersebut menunjukkan momentum bisnis tidak hanya berasal dari satu kontrak atau satu bulan tertentu. Peningkatan selama dua bulan berturut-turut memperlihatkan permintaan server dan perangkat AI berkembang dalam skala besar.
Foxconn mengatakan kategori produk cloud network menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan. Segmen tersebut mencakup server yang digunakan untuk pusat data dan berbagai sistem komputasi tingkat tinggi. Sementara itu, bisnis perangkat konsumen pintar juga memperoleh dukungan dari musim produksi yang mulai meningkat menjelang akhir tahun.
Pertumbuhan hampir 52 persen dalam satu tahun menjadi angka yang sangat besar bagi perusahaan dengan skala seperti Foxconn. Perusahaan sudah memiliki basis pendapatan tahunan yang sangat tinggi, sehingga peningkatan dua digit besar menunjukkan adanya perubahan struktural dalam komposisi penjualan.
Boom AI memainkan peran utama dalam perubahan tersebut. Perusahaan teknologi besar terus membangun pusat data dengan kapasitas komputasi yang jauh lebih besar. Sistem itu membutuhkan GPU, memori, jaringan, perangkat penyimpanan, pendingin, serta server yang menggabungkan seluruh komponen menjadi satu unit siap digunakan.
Foxconn berada dalam rantai tersebut sebagai produsen dan perakit sistem. Ketika Nvidia atau perusahaan chip lain menjual lebih banyak akselerator AI, pemasok server seperti Foxconn ikut menerima peningkatan pesanan.
Pola itu juga terlihat pada perusahaan lain. Dell Technologies pada awal September menaikkan proyeksi pendapatan tahunan sebesar US$25 miliar setelah permintaan server AI menghasilkan rekor pendapatan US$47 miliar pada kuartal keduanya. Perusahaan tersebut sekarang memperkirakan pendapatan server yang dioptimalkan untuk AI dapat mencapai US$74 miliar pada tahun fiskal 2027.
Nvidia Jadi Salah Satu Penggerak Utama Bisnis Server AI
Hubungan Foxconn dengan Nvidia menjadi salah satu elemen terpenting dalam cerita pertumbuhan perusahaan. Foxconn merupakan salah satu pemasok server utama untuk Nvidia, yang saat ini mendominasi pasar akselerator kecerdasan buatan.
Nvidia sendiri baru saja memberikan proyeksi agresif terhadap pertumbuhan industri AI. Perusahaan memperkirakan penjualan pada tahun fiskal berikutnya dapat meningkat sekitar 70 persen. Pendapatan pusat data Nvidia pada kuartal terbaru juga meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar US$89 miliar.
Angka tersebut penting bagi Foxconn karena sebagian besar sistem Nvidia tidak langsung digunakan hanya sebagai chip individual. GPU harus ditempatkan dalam server kompleks dengan jaringan berkecepatan tinggi, sistem pendinginan, penyimpanan, dan berbagai komponen pendukung lainnya. Foxconn menjadi salah satu perusahaan yang membantu membangun infrastruktur tersebut dalam skala besar.
Nvidia juga terus memperluas penggunaan generasi Blackwell dan mempersiapkan platform Vera Rubin sebagai generasi berikutnya. Permintaan yang tinggi terhadap sistem tersebut dapat meningkatkan volume produksi server sepanjang 2026 dan 2027.
Namun, pertumbuhan cepat juga menciptakan tantangan baru. Nvidia menghadapi keterbatasan pasokan memori dan kenaikan biaya komponen. Reuters sebelumnya melaporkan sejumlah pelanggan mendapat pemberitahuan bahwa harga server berbasis chip AI Nvidia dapat meningkat lebih dari 15 persen akibat mahalnya komponen memori.
Kenaikan biaya tersebut menunjukkan industri AI masih memiliki keterbatasan kapasitas. Permintaan bergerak lebih cepat daripada kemampuan rantai pasokan untuk menyediakan seluruh komponen yang dibutuhkan.
Bagi Foxconn, situasi tersebut bisa memberikan peluang sekaligus risiko. Permintaan yang lebih tinggi meningkatkan volume produksi, tetapi keterbatasan chip, memori, dan komponen lain dapat memperlambat pengiriman atau meningkatkan biaya.
Meski demikian, manajemen masih melihat permintaan AI sebagai kekuatan utama yang menopang kinerja kuartal ketiga.
Boom AI Global Belum Menunjukkan Tanda Melambat
Kinerja Foxconn tidak terjadi dalam ruang kosong. Berbagai perusahaan teknologi besar mengeluarkan proyeksi yang menunjukkan pengeluaran terhadap AI masih meningkat.
Broadcom, misalnya, menaikkan proyeksi pendapatan chip AI untuk tahun fiskal yang berakhir Oktober 2027 menjadi sekitar US$115 miliar. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yang berada di atas US$100 miliar. Perusahaan bahkan memperkirakan pendapatan AI dapat meningkat menjadi sekitar US$230 miliar pada tahun fiskal berikutnya.
Broadcom juga mencatat pesanan chip AI lebih dari US$30 miliar hanya dalam satu kuartal. Permintaan berasal dari perusahaan teknologi besar yang sedang membangun sistem komputasi khusus untuk menjalankan model kecerdasan buatan.
Nvidia memberikan sinyal yang serupa. CEO Jensen Huang mengatakan AI telah mencapai titik penting dalam adopsi komersial, sementara permintaan pusat data tetap sangat kuat. Perusahaan memperkirakan pendapatan kuartal ketiga mencapai US$108 miliar, melampaui perkiraan analis.
Dell juga menikmati efek yang sama melalui penjualan server AI. Saham perusahaan naik hampir 11 persen setelah manajemen menaikkan proyeksi pendapatan dan laba tahunan karena permintaan sistem AI lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya.
Serangkaian perkembangan tersebut memberikan konteks penting bagi Foxconn. Ketika hampir seluruh pemain utama rantai infrastruktur AI melihat peningkatan permintaan secara bersamaan, kemungkinan besar pertumbuhan Foxconn bukan hanya fenomena sementara.
Perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta, Oracle dan sejumlah laboratorium AI terus mengalokasikan modal besar untuk pusat data. Investasi tersebut menciptakan efek berantai terhadap produsen chip, memori, jaringan, pendingin, pemasok energi dan perusahaan perakit server.
Foxconn kini mencoba memanfaatkan posisi tersebut untuk bergerak lebih jauh dari citra lamanya sebagai perusahaan yang identik dengan perakitan iPhone.
Foxconn Semakin Mengurangi Ketergantungan pada Bisnis Apple
Hubungan Foxconn dengan Apple tetap sangat penting. Perusahaan selama bertahun-tahun menjadi salah satu mitra manufaktur utama iPhone dan berbagai perangkat elektronik Apple. Namun, pertumbuhan server AI mulai mengubah struktur bisnis perusahaan.
Diversifikasi menjadi penting karena industri smartphone telah memasuki fase yang lebih matang. Pertumbuhan unit penjualan perangkat konsumen tidak lagi secepat satu dekade lalu, sementara persaingan manufaktur juga semakin ketat.
Server AI menawarkan karakter bisnis yang berbeda. Nilai setiap sistem dapat jauh lebih tinggi dibandingkan perangkat elektronik konsumen karena sebuah server AI kelas data center dapat memuat beberapa GPU bernilai sangat mahal, komponen jaringan khusus, memori berkapasitas besar, dan sistem pendinginan canggih.
Volume produksi juga berkembang cepat karena operator pusat data membangun fasilitas berskala besar. Beberapa perusahaan bahkan merencanakan penggunaan ratusan ribu hingga jutaan GPU selama beberapa tahun ke depan.
Foxconn telah menyesuaikan strategi bisnis dengan perkembangan tersebut dan memperbesar kapasitas produksi server. Pertumbuhan laba kuartal kedua sebesar 35 persen memberikan bukti awal bahwa perubahan arah ini mulai memberikan dampak positif terhadap keuntungan.
Diversifikasi juga membantu perusahaan menghadapi risiko apabila permintaan perangkat konsumen melemah. Meski bisnis Apple tetap memberikan volume besar, server AI menawarkan sumber pendapatan baru yang memiliki prospek pertumbuhan lebih cepat.
Pada saat yang sama, pengalaman Foxconn mengelola rantai pasokan global dalam skala sangat besar menjadi keuntungan. Perusahaan sudah terbiasa membeli komponen dalam volume tinggi, mengoperasikan fasilitas produksi besar, dan bekerja dengan perusahaan teknologi multinasional.
Kemampuan tersebut sangat sesuai dengan kebutuhan industri AI yang saat ini membutuhkan produksi infrastruktur dalam jumlah besar dan waktu yang relatif cepat.
Risiko Geopolitik Tetap Membayangi Prospek Foxconn
Meski memberikan pandangan positif terhadap kuartal ketiga, Foxconn tetap memperingatkan bahwa ketidakpastian politik dan ekonomi global dapat memengaruhi bisnis. Perusahaan menyebut volatilitas geopolitik sebagai salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Peringatan tersebut relevan karena rantai pasokan elektronik global masih menghadapi berbagai ketegangan. Persaingan teknologi Amerika Serikat dan China terus memengaruhi aturan ekspor chip, investasi pabrik, serta lokasi produksi perusahaan teknologi.
Taiwan sendiri berada di pusat industri semikonduktor dunia sekaligus menjadi titik geopolitik yang sensitif. Setiap peningkatan ketegangan di Selat Taiwan dapat menciptakan risiko terhadap perusahaan yang memiliki operasi dan rantai pasokan besar di kawasan.
Selain itu, konflik di Timur Tengah telah mendorong harga energi naik dan meningkatkan biaya logistik global. Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya transportasi, manufaktur, dan operasional pusat data.
Suku bunga juga menjadi faktor lain. Data tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga pada September. Kondisi tersebut dapat membuat biaya pembiayaan proyek pusat data menjadi lebih mahal.
Namun, sejauh ini perusahaan teknologi masih mempertahankan belanja AI dalam skala besar. Bahkan ketika investor mulai mempertanyakan kapan investasi tersebut akan menghasilkan keuntungan, pesanan chip dan server tetap menunjukkan pertumbuhan tinggi.
Foxconn juga mendapatkan respons positif dari pasar. Saham perusahaan naik 3,4 persen pada Jumat, sementara indeks pasar Taiwan hanya meningkat sekitar 1,5 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan investor menyambut baik prospek bisnis AI dan angka pendapatan terbaru.
Foxconn dan Permintaan AI Jadi Sorotan hingga Akhir 2026
Rekor pendapatan Agustus memperlihatkan transformasi yang sedang terjadi pada Foxconn. Perusahaan yang selama bertahun-tahun identik dengan produksi perangkat konsumen kini semakin terhubung dengan pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan dunia.
Pendapatan T$921,8 miliar dan pertumbuhan hampir 52 persen secara tahunan memberikan dasar kuat bagi optimisme terhadap kuartal ketiga. Ditambah kenaikan laba 35 persen pada kuartal sebelumnya, perusahaan memasuki paruh kedua tahun ini dengan momentum yang lebih kuat daripada perkiraan pasar.
Kekuatan tersebut terutama datang dari server AI. Permintaan Nvidia, operator pusat data dan perusahaan teknologi global menciptakan pasar besar bagi produsen sistem komputasi seperti Foxconn. Selama investasi AI tetap tinggi, bisnis tersebut berpotensi menjadi salah satu mesin pendapatan utama perusahaan.
Namun, perjalanan belum bebas risiko. Ketegangan geopolitik, keterbatasan pasokan komponen, kenaikan harga memori, biaya energi serta potensi perubahan kebijakan perdagangan dapat memengaruhi pertumbuhan.
Meski demikian, data terbaru menunjukkan permintaan belum melambat. Nvidia, Broadcom dan Dell sama-sama memberikan proyeksi yang mencerminkan investasi AI tetap agresif. Foxconn kini berada di tengah gelombang tersebut sebagai salah satu perusahaan yang memproduksi perangkat keras fisik yang dibutuhkan untuk menjalankan revolusi AI.
Jika momentum bertahan hingga akhir tahun, 2026 dapat menjadi salah satu periode terpenting dalam transformasi Foxconn. Perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan jutaan smartphone yang keluar dari lini produksinya, tetapi juga semakin bergantung pada ribuan server bernilai tinggi yang menjadi fondasi pusat data AI di seluruh dunia.
Kinerja kuartal ketiga akan menjadi ujian berikutnya. Namun, dengan pendapatan Agustus yang mencapai rekor dan manajemen yang kini memperkirakan hasil melampaui ekspektasi pasar, Foxconn dan permintaan AI tampaknya masih memiliki ruang untuk mencatat pertumbuhan lebih lanjut hingga akhir 2026.