Modal Asing Masih Mengalir ke Indonesia, tetapi Mengapa Investor Belum Banyak Masuk Saham?
Jakarta — Indonesia masih mampu menarik modal asing di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Bank Indonesia (BI) mencatat investasi portofolio asing pada kuartal III 2026 hingga 14 Agustus mencapai net inflow sebesar US$1,8 miliar. Aliran tersebut mendapat dukungan dari penerbitan global bond pemerintah serta masuknya dana ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kondisi ini menunjukkan aset keuangan Indonesia tetap memiliki daya tarik bagi investor global. Namun, ada cerita lain di balik angka positif tersebut. Investor asing belum masuk secara merata ke seluruh instrumen. Dana asing masih banyak memilih instrumen pendapatan tetap dan jangka pendek. Sementara itu, pasar saham justru menghadapi arus modal keluar. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa investor global masih berhati-hati dalam mengambil risiko di Indonesia.
Pergerakan modal asing menjadi salah satu indikator penting bagi pasar keuangan Indonesia. Ketika dana asing masuk, permintaan terhadap aset rupiah dapat meningkat. Kondisi tersebut dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar obligasi. Sebaliknya, arus modal keluar dalam jumlah besar dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah. Karena itu, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan untuk menjaga daya tarik aset domestik. Pemerintah juga berusaha mempertahankan kepercayaan investor di tengah perubahan kondisi global.
Modal Asing Masuk US$1,8 Miliar pada Kuartal III 2026
Bank Indonesia mencatat investasi portofolio asing pada kuartal III 2026 hingga 14 Agustus mencapai US$1,8 miliar secara neto. Jika menggunakan kurs sekitar Rp17.800 per dolar AS, nilainya setara dengan sekitar Rp32 triliun. Penerbitan global bond pemerintah menjadi salah satu penopang aliran tersebut. Selain itu, investor asing juga menempatkan dana pada SBN dan SRBI.
Perkembangan ini melanjutkan kondisi positif pada kuartal sebelumnya. Pada kuartal II 2026, aliran investasi portofolio asing mencatat net inflow sebesar US$8,5 miliar. SBN dan SRBI menjadi instrumen yang banyak menerima aliran dana tersebut. Kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik ikut meningkatkan daya tariknya bagi investor.
Masuknya modal asing terjadi ketika pasar global masih menghadapi banyak ketidakpastian. Konflik geopolitik, harga energi, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, dan perubahan sentimen terhadap negara berkembang masih menjadi perhatian. Oleh karena itu, keberadaan net inflow menunjukkan investor global masih melihat peluang pada aset Indonesia.
Sepanjang 2026, Arus Modal Masih Berada di Zona Positif
Jika melihat periode yang lebih panjang, posisi Indonesia juga masih mencatat aliran modal positif. Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan arus modal asing sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026 mencapai sekitar US$5,9 miliar.
Namun, komposisi aliran tersebut menarik untuk diperhatikan. SRBI menerima inflow sekitar US$9,4 miliar. Sementara itu, instrumen obligasi mencatat inflow sekitar US$610 juta. Kondisi berbeda terjadi pada pasar saham. Investor asing justru mencatat outflow sekitar US$4,12 miliar.
Data tersebut memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai perilaku investor global. Modal asing memang masih masuk ke Indonesia, tetapi investor cenderung memilih instrumen yang menawarkan imbal hasil menarik dengan risiko yang lebih terukur. Pasar saham yang memiliki volatilitas lebih tinggi belum menjadi tujuan utama dana asing sepanjang periode tersebut.
Mengapa SRBI Menjadi Pilihan Investor Asing?
Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI merupakan instrumen yang diterbitkan Bank Indonesia dalam rupiah. Instrumen ini menjadi salah satu bagian penting dari operasi moneter sekaligus pendalaman pasar keuangan domestik. Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, SRBI menawarkan karakteristik yang menarik bagi investor.
Imbal hasil menjadi salah satu pertimbangannya. Investor global terus membandingkan tingkat keuntungan berbagai aset di banyak negara. Ketika instrumen Indonesia menawarkan imbal hasil yang kompetitif, dana asing memiliki alasan untuk masuk. Namun, investor juga memperhitungkan risiko nilai tukar.
Jika rupiah melemah terlalu dalam, keuntungan dari imbal hasil dapat berkurang ketika investor mengonversi kembali dananya ke dolar AS. Karena itu, stabilitas rupiah mempunyai peran besar dalam menjaga daya tarik SRBI dan SBN.
Bank Indonesia juga menggunakan berbagai kebijakan untuk memperkuat pasar uang dan pasar valuta asing. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas sekaligus meningkatkan daya tarik investasi portofolio Indonesia.
SBN Tetap Menarik bagi Investor Global
Selain SRBI, Surat Berharga Negara masih menjadi salah satu tujuan modal asing. Investor nonresiden mencatat net buy sekitar Rp32,09 triliun di pasar SBN sepanjang kuartal II 2026. Hingga 30 Juli, investor asing kembali mencatat net buy sekitar Rp6,36 triliun secara bulanan.
Secara year to date hingga periode tersebut, net buy investor nonresiden di pasar SBN mencapai sekitar Rp13,35 triliun. Angka ini menunjukkan surat utang pemerintah Indonesia masih memiliki daya tarik di tengah tekanan global.
Yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 7 persen pada periode tersebut. Imbal hasil yang relatif tinggi dapat menarik investor yang mencari pendapatan tetap. Namun, kenaikan yield juga dapat mencerminkan peningkatan risiko yang diminta pasar.
Investor karena itu tidak hanya melihat besarnya imbal hasil. Stabilitas rupiah, inflasi, kebijakan fiskal, dan kondisi ekonomi domestik juga menjadi pertimbangan. Perubahan salah satu faktor tersebut dapat memengaruhi keputusan mereka untuk menambah atau mengurangi kepemilikan SBN.
Pasar Saham Justru Masih Mengalami Outflow
Di tengah masuknya dana asing ke SRBI dan obligasi, kondisi berbeda terlihat pada pasar saham. Sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026, pasar saham Indonesia mencatat outflow asing sekitar US$4,12 miliar berdasarkan perhitungan PIER.
Perbedaan ini penting karena menunjukkan investor asing masih bersikap selektif. Mereka tidak sepenuhnya meninggalkan Indonesia. Sebaliknya, sebagian dana berpindah menuju instrumen yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi pasar saat ini.
Saham mempunyai karakter risiko yang berbeda dibandingkan surat utang atau instrumen moneter. Harga saham dapat bergerak lebih tajam karena perubahan kinerja perusahaan, kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, dan sentimen pasar. Ketika ketidakpastian global tinggi, sebagian investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa angka modal asing secara keseluruhan dapat tetap positif meskipun pasar saham mengalami outflow. Dana yang masuk ke SRBI dan instrumen lainnya mampu menutupi sebagian besar arus keluar dari pasar ekuitas.
Modal Asing Ikut Membantu Rupiah
Aliran investasi portofolio juga mempunyai hubungan erat dengan nilai tukar rupiah. Investor asing yang membeli aset berdenominasi rupiah membutuhkan mata uang Indonesia untuk melakukan transaksi. Peningkatan permintaan tersebut dapat memberikan dukungan terhadap rupiah.
Bank Indonesia mencatat rupiah berada di posisi Rp17.855 per dolar AS pada 18 Agustus 2026. Posisi tersebut menguat 0,78 persen dibandingkan akhir Juli 2026. BI menilai penguatan tersebut mendapat dukungan dari respons kebijakan stabilisasi dan upaya meningkatkan aliran investasi portofolio asing.
Namun, hubungan tersebut dapat bergerak dua arah. Modal portofolio dapat keluar dengan cepat ketika sentimen global berubah. Kondisi ini sering disebut sebagai risiko sudden reversal. Jika investor global secara bersamaan memindahkan dana menuju aset aman, tekanan terhadap mata uang negara berkembang dapat meningkat.
Karena itu, Indonesia tidak dapat hanya mengandalkan investasi portofolio untuk menjaga rupiah. Fundamental ekonomi, ekspor, investasi langsung, cadangan devisa, dan neraca perdagangan tetap memiliki peran penting.
Cadangan Devisa Masih Menjadi Bantalan Indonesia
Posisi cadangan devisa Indonesia juga memberikan perlindungan ketika pasar global mengalami gejolak. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir Juli 2026 sebesar US$145,3 miliar.
Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor. Jika menghitung impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, cadangan itu setara sekitar 5,3 bulan kebutuhan. Posisi tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional yang berada di sekitar tiga bulan impor.
Cadangan devisa menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga ketahanan eksternal. Bank Indonesia dapat menggunakannya sebagai bagian dari kebijakan stabilisasi ketika rupiah menghadapi tekanan berlebihan.
Namun, ketahanan eksternal tidak hanya bergantung pada cadangan devisa. Indonesia juga membutuhkan neraca perdagangan yang sehat serta aliran investasi yang berkelanjutan.
Neraca Pembayaran Indonesia Mulai Membaik
Perkembangan lain yang perlu diperhatikan adalah Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Pada kuartal II 2026, NPI mencatat defisit US$0,9 miliar. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada kuartal I.
Transaksi modal dan finansial menjadi salah satu faktor yang membantu memperbaiki kondisi tersebut. Pada kuartal II, transaksi modal dan finansial mencatat surplus US$12 miliar. Investasi langsung dan investasi portofolio memberikan dukungan terhadap pencapaian tersebut.
Namun, transaksi berjalan menghadapi tekanan. Defisit transaksi berjalan pada kuartal II mencapai US$12,5 miliar atau sekitar 3,3 persen dari produk domestik bruto. Kenaikan defisit perdagangan migas menjadi salah satu penyebabnya.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa aliran modal asing mempunyai peran penting dalam menjaga keseimbangan eksternal Indonesia. Meski demikian, pemerintah tetap perlu memperkuat ekspor dan mengendalikan tekanan impor agar ketahanan ekonomi tidak terlalu bergantung pada modal portofolio.
Investor Asing Masih Percaya, tetapi Tetap Berhati-hati
Masuknya modal asing memberikan sinyal bahwa investor global belum kehilangan kepercayaan terhadap Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang masih berada di atas 5 persen menjadi salah satu faktor pendukung. Imbal hasil aset domestik yang menarik juga memberikan daya tarik tambahan.
Namun, komposisi investasi menunjukkan sikap investor masih berhati-hati. Dominasi SRBI dan instrumen pendapatan tetap menandakan investor lebih memilih aset dengan profil risiko yang terukur. Pada saat yang sama, outflow dari pasar saham menunjukkan minat terhadap aset berisiko belum pulih sepenuhnya.
Kepastian kebijakan domestik menjadi faktor penting untuk mengubah kondisi tersebut. Investor membutuhkan kejelasan mengenai kebijakan fiskal, moneter, regulasi, dan arah perekonomian. Semakin tinggi kepastian, semakin besar peluang dana asing masuk ke instrumen investasi berjangka lebih panjang.
Indonesia Masih Menarik, tetapi Kualitas Inflow Perlu Diperhatikan
Data terbaru menunjukkan modal asing masih mengalir ke Indonesia meski pasar global menghadapi ketidakpastian. Net inflow investasi portofolio pada kuartal III hingga 14 Agustus 2026 mencapai US$1,8 miliar. Secara lebih luas, arus modal sepanjang Januari hingga awal Agustus juga masih berada di zona positif.
Namun, besarnya inflow bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Komposisi dana tersebut sama pentingnya. Dominasi SRBI menunjukkan investor masih tertarik pada imbal hasil instrumen domestik. SBN juga tetap mampu menarik dana asing. Sebaliknya, pasar saham masih menghadapi arus keluar.
Situasi ini memberikan dua pesan bagi Indonesia. Pertama, aset keuangan domestik masih mempunyai daya tarik di mata investor global. Kedua, kepercayaan terhadap aset berisiko dan investasi berjangka panjang masih perlu diperkuat.
Bank Indonesia dan pemerintah kini menghadapi tantangan untuk menjaga stabilitas sekaligus meningkatkan kualitas arus modal yang masuk. Jika Indonesia mampu menjaga rupiah, mempertahankan pertumbuhan ekonomi, dan memberikan kepastian kebijakan, peluang untuk menarik modal asing tetap terbuka. Tantangan berikutnya bukan sekadar membuat dana asing masuk, tetapi memastikan investasi tersebut semakin banyak mengalir ke sektor dan instrumen yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.