EkonomiInternasional

Harga Minyak Dekati US$100, Konflik AS-Iran Ancam Dorong Brent ke US$120

Harga minyak dunia kembali mendekati level psikologis US$100 per barel pada Senin, 7 September 2026, setelah konflik Amerika Serikat dan Iran semakin mengganggu aktivitas kapal di Selat Hormuz. Harga minyak mendekati US$100 ketika kontrak Brent naik ke sekitar US$97,17 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI bergerak di sekitar US$92,27. Pasar bereaksi terhadap rangkaian serangan baru terhadap kapal pengangkut minyak, ancaman Iran memperketat akses pelayaran, serta kekhawatiran bahwa konflik dapat mengurangi pasokan dari Timur Tengah dalam waktu lebih lama. Goldman Sachs bahkan menilai Brent dapat melonjak hingga sekitar US$120 per barel jika gangguan di Hormuz memburuk secara signifikan.

Kenaikan tersebut memperpanjang reli minyak yang sudah berlangsung sejak pekan lalu. Brent mencatat penguatan sekitar 7,6 persen dalam sepekan hingga 4 September, sedangkan WTI naik sekitar 10 persen. Pada saat yang sama, harga diesel Amerika Serikat menyentuh rekor tertinggi dan biaya energi mulai kembali menekan inflasi global. Situasi ini menempatkan Selat Hormuz sebagai pusat perhatian pasar karena jalur sempit tersebut masih memegang peran penting bagi ekspor minyak Timur Tengah. Konflik AS-Iran kini tidak hanya berlangsung melalui serangan terhadap sasaran militer. Kapal komersial dan tanker energi semakin masuk ke dalam lingkaran konflik sehingga perusahaan pelayaran, pemerintah, serta trader minyak mulai memperhitungkan risiko yang lebih besar.

Serangan terhadap Tanker Dorong Harga Minyak ke Level Enam Pekan Tertinggi

Reuters melaporkan minyak berada dekat level tertinggi dalam sekitar enam pekan setelah Amerika Serikat menyerang tiga tanker minyak Iran pada 5 September. Washington mengatakan operasi itu merupakan respons terhadap serangan rudal balistik Iran yang menargetkan kapal perang AS. Dua tanker Iran mengalami kerusakan permanen, sedangkan satu kapal lain yang tidak membawa muatan hancur. Iran kemudian memperingatkan bahwa serangan lanjutan terhadap asetnya akan mendapatkan balasan. Tehran juga menyebut fasilitas perusahaan energi Amerika sebagai sasaran yang dapat terpapar jika Washington kembali menyerang.

Ketegangan tersebut datang setelah kapal lain juga menjadi sasaran. Reuters melaporkan dua supertanker yang membawa minyak Saudi terkena proyektil saat melintas keluar melalui Selat Hormuz pada 1 September. Serangan terhadap kapal komersial menambah kekhawatiran bahwa konflik tidak lagi terbatas pada aset militer Iran dan Amerika Serikat. Perusahaan pelayaran harus mempertimbangkan keselamatan awak, biaya asuransi, risiko keterlambatan, dan kemungkinan kehilangan kapal atau muatan. Semua faktor ini dapat meningkatkan biaya pengiriman minyak bahkan tanpa terjadi penghentian total lalu lintas di Hormuz.

Pasar minyak biasanya bereaksi cepat terhadap ancaman pasokan karena perdagangan crude bergantung pada kepastian pengiriman. Ketika tanker harus menunggu, mengubah rute, atau membutuhkan perlindungan tambahan, volume minyak yang tersedia dalam jangka pendek dapat berkurang. Kondisi inilah yang membantu mendorong Brent mendekati US$100 meski pasokan global secara keseluruhan belum mengalami keruntuhan besar.

Selat Hormuz Kembali Menjadi Titik Paling Berisiko

Selat Hormuz menjadi pusat krisis karena jalur tersebut menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan pasar global. Associated Press melaporkan sekitar 9 juta barel minyak per hari masih melewati kawasan ini dalam kondisi konflik saat ini. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan periode normal, tetapi tetap cukup besar untuk membuat gangguan serius berdampak pada harga dunia. Iran kini berencana mengumumkan zona pembatasan baru di sekitar selat dan menargetkan kapal yang dianggap melanggar ketentuannya.

Reuters mencatat lalu lintas kapal melalui Hormuz sudah turun ke level terendah sejak Mei. Tehran sebelumnya juga memasukkan lebih banyak kapal ke daftar hitam karena dianggap tidak mematuhi aturan Iran. Kapal yang masuk daftar tersebut menghadapi ancaman denda, penyitaan, atau penahanan apabila mencoba melewati wilayah yang dikontrol Iran. Kebijakan semacam ini meningkatkan ketidakpastian karena perusahaan tidak hanya menghadapi risiko serangan, tetapi juga kemungkinan tindakan penegakan oleh Iran.

Amerika Serikat mengambil posisi berbeda. Washington menyatakan Hormuz merupakan jalur internasional dan menolak klaim Iran yang dapat membatasi kebebasan navigasi. Angkatan Laut AS telah meningkatkan kehadiran di kawasan dan mengalihkan atau mengawal sejumlah kapal untuk menjaga arus perdagangan. Namun, semakin banyak kapal perang dan aset militer berada di sekitar jalur komersial, semakin besar pula risiko salah perhitungan.

Uni Emirat Arab berusaha mengurangi ketergantungan pada Hormuz melalui jalur ekspor alternatif. Strategi ini dapat membantu sebagian pasokan Teluk, tetapi kapasitas alternatif belum cukup untuk menggantikan seluruh volume yang biasanya melewati selat. Karena itu, Hormuz tetap menjadi titik yang sangat penting bagi pasar energi.

Goldman Sachs Lihat Risiko Brent Naik hingga US$120

Goldman Sachs memperingatkan bahwa harga Brent dapat naik menuju US$120 per barel jika gangguan pasokan melalui Hormuz semakin parah. Proyeksi tersebut bukan berarti Brent pasti mencapai angka itu. Skenario US$120 bergantung pada seberapa besar volume yang hilang, berapa lama gangguan berlangsung, dan apakah produsen lain dapat menggantikan pasokan dengan cepat. Namun, perkiraan tersebut menunjukkan besarnya premi risiko geopolitik yang mulai masuk ke pasar.

Sebelum eskalasi terbaru, survei Reuters terhadap analis sebenarnya masih memperkirakan harga minyak rata-rata 2026 berada jauh di bawah US$100. Analis memperkirakan Brent rata-rata sekitar US$85,08 per barel dan WTI sekitar US$80,20. Perkiraan itu sudah mempertimbangkan risiko Timur Tengah, tetapi tidak mengasumsikan gangguan ekstrem dan berkepanjangan pada Hormuz.

Perbedaan antara proyeksi rata-rata US$85 dan skenario US$120 memperlihatkan betapa besar pengaruh kondisi geopolitik terhadap harga. Jika serangan mereda dan arus kapal kembali normal, premi risiko dapat turun dengan cepat. Sebaliknya, jika lebih banyak tanker terkena serangan atau Iran memperketat zona pembatasan, pasar bisa kembali membeli minyak secara agresif untuk mengantisipasi kekurangan.

Trader juga mengamati cadangan minyak strategis Amerika Serikat. Reuters melaporkan Strategic Petroleum Reserve AS berada di level terendah sejak 1982. Kondisi tersebut mengurangi ruang Washington untuk menenangkan pasar melalui pelepasan cadangan dalam jumlah sangat besar seperti pada krisis sebelumnya.

OPEC+ Pilih Tahan Produksi di Tengah Ketidakpastian

Kondisi pasar menjadi semakin menarik karena OPEC+ pada 6 September memilih mempertahankan kebijakan produksinya untuk Oktober. Kelompok tersebut tidak membuka tambahan volume baru meski harga minyak menguat. Keputusan itu menunjukkan produsen besar tidak ingin mengambil langkah agresif ketika pasokan nyata dari Timur Tengah sulit diprediksi. Bagi pasar, kebijakan yang tidak berubah berarti perhatian tetap tertuju pada gangguan fisik di Hormuz, bukan hanya angka kuota OPEC+.

Iran sendiri mengalami penurunan ekspor yang sangat besar. Reuters sebelumnya melaporkan negara tersebut sudah sekitar tujuh pekan tidak mengirim crude dalam volume berarti melalui Selat Hormuz. Blokade dan sanksi Amerika Serikat berhasil menekan ekspor lebih jauh dibandingkan kebijakan sanksi sebelumnya.

Tekanan ekonomi terhadap Iran juga mulai mengurangi sebagian kemampuan Tehran memakai Hormuz sebagai alat tawar. Reuters pada 6 September melaporkan kampanye ekonomi yang dipimpin AS membuat Iran menghadapi kekurangan mata uang asing, penurunan impor, dan kenaikan harga domestik. Namun, tekanan ekonomi tidak otomatis berarti pemerintah Iran akan mengurangi aksi militernya. Sebagian pejabat dan analis justru menilai Garda Revolusi dapat memilih bertahan sambil berharap memperoleh konsesi dari Barat.

Bagi OPEC+, kondisi seperti ini sulit dikelola. Arab Saudi dan beberapa produsen lain memiliki kapasitas untuk menaikkan produksi, tetapi peningkatan produksi tidak selalu membantu apabila kapal tetap kesulitan melewati jalur ekspor. Karena itu, keamanan pelayaran kini hampir sama pentingnya dengan jumlah barel yang dipompa dari ladang minyak.

Kenaikan Minyak Mulai Menekan Inflasi dan Pasar Keuangan

Harga minyak yang mendekati US$100 tidak hanya memengaruhi perusahaan energi. Dampaknya mulai terlihat pada biaya transportasi, inflasi, obligasi, saham, dan mata uang. Reuters melaporkan pasar saham Eropa melemah pada 7 September karena investor khawatir kenaikan energi akan memperkuat tekanan inflasi. Brent sempat naik sekitar 1,3 persen ke US$97,50 per barel dalam perdagangan hari itu.

Amerika Serikat sudah merasakan dampak langsung di tingkat konsumen. Associated Press melaporkan harga rata-rata bensin reguler mencapai US$4,14 per galon pada Labor Day 2026, rekor tertinggi untuk periode tersebut. Harga diesel bahkan mencapai rata-rata nasional US$5,85 per galon. Diesel sangat penting karena digunakan truk, logistik, pertanian, dan berbagai aktivitas industri. Ketika diesel naik, perusahaan sering meneruskan sebagian biaya tersebut kepada konsumen melalui harga barang yang lebih tinggi.

Tekanan energi juga memengaruhi kebijakan suku bunga. Investor mulai memperkirakan bank sentral akan mempertahankan kebijakan lebih ketat karena harga energi dapat menghambat penurunan inflasi. Reuters mencatat pasar memperkirakan European Central Bank akan menaikkan suku bunga menjadi 2,5 persen, sementara ekspektasi kenaikan suku bunga di Jepang dan Amerika Serikat ikut meningkat.

Dampak juga terasa di negara pengimpor minyak besar. Reserve Bank of India kemungkinan melakukan intervensi untuk menopang rupee pada 7 September ketika kenaikan Brent menekan mata uang tersebut. India mengimpor sebagian besar kebutuhan minyaknya sehingga lonjakan harga dapat memperbesar tagihan impor dan tekanan inflasi.

Dengan demikian, konflik di Hormuz dapat bergerak dari masalah keamanan menjadi persoalan ekonomi global. Semakin lama harga bertahan dekat US$100, semakin besar kemungkinan perusahaan dan rumah tangga merasakan kenaikan biaya.

Harga Minyak Mendekati US$100, Pasar Menunggu Langkah Iran dan AS

Pergerakan harga minyak mendekati US$100 menunjukkan bahwa pasar tidak lagi melihat konflik AS-Iran sebagai risiko yang jauh. Serangan terhadap tanker, penurunan lalu lintas di Hormuz, dan rencana Iran membentuk zona pembatasan baru menciptakan ancaman langsung terhadap perdagangan energi. Brent masih berada di bawah tiga digit pada 7 September, tetapi jaraknya semakin tipis.

Arah harga berikutnya sangat bergantung pada tindakan Washington dan Tehran. Jika kedua pihak kembali menyerang kapal atau fasilitas energi, risiko Brent menuju US$100 bahkan US$120 akan meningkat. Sebaliknya, pembukaan jalur diplomasi dan pemulihan aktivitas kapal dapat mengurangi premi geopolitik dengan cepat.

Tehran sudah memperingatkan bahwa fasilitas perusahaan energi Amerika dapat menjadi sasaran apabila AS melanjutkan serangan terhadap aset Iran. Di saat yang sama, pemerintah Iran mempersiapkan zona pembatasan baru di sekitar Hormuz. Langkah ini menunjukkan konflik belum berada pada jalur deeskalasi yang jelas.

Pasar juga akan mengamati kemampuan produsen lain meningkatkan ekspor, kebijakan OPEC+, serta ketersediaan jalur alternatif. Faktor-faktor tersebut dapat membatasi lonjakan harga jika pasokan Iran terus menyusut. Namun, tidak ada pengganti cepat untuk seluruh volume yang melewati Hormuz.

Untuk sementara, Brent berada dekat level tertinggi dalam enam pekan dan harga bahan bakar sudah mencetak rekor di beberapa pasar. Situasi itu menjadikan Selat Hormuz salah satu risiko terbesar bagi ekonomi global menjelang akhir 2026. Jika konflik memburuk, dampaknya tidak hanya muncul di pompa bensin. Inflasi, suku bunga, biaya logistik, pasar saham, dan pertumbuhan ekonomi dapat ikut menghadapi tekanan baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *