InternasionalViral Internasional

Remaja 17 Tahun Meninggal setelah Diberi Cupangan Pacarnya, Gumpalan Darah Diduga Picu Stroke

Sebuah kasus langka dari Meksiko kembali menarik perhatian karena memperlihatkan bahwa cupangan dapat menyebabkan stroke dalam keadaan yang sangat tidak biasa. Julio Macías González, remaja berusia 17 tahun asal Mexico City, meninggal setelah mengalami kejang saat sedang makan malam bersama keluarganya. Beberapa jam sebelumnya, Julio menghabiskan waktu bersama pacarnya yang saat itu berusia 24 tahun dan mendapatkan cupangan atau hickey di bagian leher. Laporan media Meksiko pada 2016 menyebut dokter menduga tekanan isapan pada leher memicu terbentuknya gumpalan darah. Gumpalan tersebut kemudian bergerak menuju otak dan menyebabkan stroke fatal. Kasus Julio memang nyata dalam arti kematiannya dan kaitan yang dilaporkan luas saat itu, tetapi hubungan sebab-akibatnya berasal dari kesimpulan medis yang diberitakan media, bukan laporan kasus ilmiah terperinci yang tersedia untuk publik. Karena itu, kasus ini tidak berarti cupangan biasa merupakan aktivitas yang secara umum mematikan.

Julio Mengalami Kejang saat Makan Malam Bersama Keluarga

Peristiwa tersebut terjadi di Mexico City pada Agustus 2016. Julio Macías González saat itu baru berusia 17 tahun. Sebelum pulang ke rumah, ia menghabiskan waktu bersama pacarnya yang berusia 24 tahun. Sang pacar meninggalkan cupangan cukup kuat pada bagian leher Julio.

Julio kemudian kembali ke rumah dan makan malam bersama keluarganya. Situasi berubah menjadi darurat ketika tubuh remaja tersebut tiba-tiba mengalami kejang. Keluarganya segera meminta pertolongan medis.

Petugas paramedis datang untuk memberikan bantuan, tetapi mereka tidak berhasil menyelamatkan Julio. Sejumlah laporan menyebut ia meninggal di lokasi, sementara pemberitaan lain mengatakan ia meninggal setelah mendapatkan pertolongan medis. Perbedaan kecil dalam kronologi tersebut muncul dalam berbagai laporan internasional yang mengutip pemberitaan lokal Meksiko.

Namun, sumber-sumber tersebut memiliki satu kesamaan penting. Dokter menduga gumpalan darah yang berkaitan dengan cupangan pada leher Julio memicu stroke yang akhirnya merenggut nyawanya.

CCTV Español melaporkan bahwa tenaga medis mengaitkan emboli fatal tersebut dengan gumpalan darah akibat tekanan isapan pada leher. TIME juga melaporkan kesimpulan serupa berdasarkan pemberitaan lokal Meksiko.

Kasus itu segera menyebar ke berbagai negara karena mekanismenya terdengar sangat tidak biasa. Cupangan biasanya hanya meninggalkan memar yang menghilang dengan sendirinya. Karena itu, laporan mengenai seorang remaja yang meninggal setelah mendapatkan cupangan langsung menimbulkan pertanyaan: bagaimana sebuah bekas ciuman pada leher dapat berhubungan dengan stroke?

Cupangan Terbentuk karena Pembuluh Darah Kecil Pecah

Cupangan atau hickey pada dasarnya merupakan memar. Tekanan atau isapan kuat pada kulit dapat memecahkan pembuluh darah kecil yang berada dekat permukaan kulit. Darah kemudian keluar ke jaringan di sekitarnya sehingga menghasilkan warna merah, ungu, atau kecokelatan.

Pada sebagian besar orang, efeknya berhenti sampai di sana. Tubuh secara perlahan menyerap kembali darah tersebut dan warna memar menghilang dalam beberapa hari.

Itulah sebabnya masyarakat umumnya tidak menganggap cupangan sebagai kondisi medis serius.

Kasus Julio berbeda karena dokter yang menangani atau membahas kematiannya menduga isapan kuat pada area leher memicu pembentukan gumpalan darah. Gumpalan tersebut kemudian bergerak menuju otak dan menghambat aliran darah, sehingga menyebabkan stroke.

Secara medis, mekanisme yang melibatkan trauma pada pembuluh darah leher memang memungkinkan. Arteri besar yang membawa darah menuju otak melewati bagian leher. Trauma pada dinding arteri dalam keadaan tertentu dapat memicu pembentukan bekuan darah.

Namun, mekanisme tersebut jauh berbeda dari memar kecil yang biasanya muncul akibat cupangan.

Karena itulah para ahli yang membahas kasus Julio menekankan betapa tidak lazimnya kejadian tersebut. Seorang dokter spesialis kegawatdaruratan anak yang diwawancarai Seventeen setelah kasus itu muncul bahkan mengatakan ia belum pernah menemukan situasi seperti tersebut selama lebih dari 25 tahun berpraktik.

Gumpalan Darah Diduga Bergerak Menuju Otak

Stroke terjadi ketika aliran darah menuju bagian otak terganggu. Salah satu bentuk yang paling umum adalah stroke iskemik, ketika pembuluh darah mengalami penyumbatan sehingga jaringan otak tidak mendapatkan suplai darah dan oksigen yang memadai.

Dalam kasus Julio, laporan pada saat itu menyebut gumpalan darah sebagai penyebab utama. Dokter menduga tekanan pada leher menghasilkan cedera yang kemudian memicu pembentukan gumpalan. Setelah memasuki aliran darah menuju otak, gumpalan tersebut menghambat sirkulasi dan menyebabkan stroke.

Kejang yang dialami Julio saat makan bersama keluarganya kemudian menjadi salah satu tanda bahwa sesuatu yang serius sedang terjadi pada otaknya.

Namun, penting untuk tidak mengubah laporan kasus ini menjadi kesimpulan bahwa setiap cupangan dapat menghasilkan gumpalan darah.

Kasus seperti Julio berada pada kategori kejadian yang sangat jarang. Jutaan orang dapat mengalami memar akibat cupangan tanpa mengalami komplikasi neurologis. Literatur medis hanya mencatat sedikit kasus yang menghubungkan love bite dengan cedera pembuluh darah atau stroke.

Selain itu, informasi medis publik mengenai Julio cukup terbatas. Pemberitaan internasional pada 2016 sebagian besar mengutip laporan media lokal Meksiko mengenai kesimpulan tenaga medis. Tidak tersedia laporan kasus ilmiah lengkap mengenai Julio yang menjelaskan hasil pencitraan, lokasi pembuluh darah yang mengalami cedera, maupun pemeriksaan patologis secara terperinci.

Karena itu, penjelasan paling akurat adalah dokter menduga cupangan memicu gumpalan yang kemudian menyebabkan stroke, bukan menyatakan bahwa setiap detail mekanismenya telah mendapatkan dokumentasi ilmiah lengkap.

Kasus Serupa Pernah Terjadi pada Perempuan di Selandia Baru

Julio bukan satu-satunya orang yang pernah mengalami komplikasi serius setelah mendapatkan cupangan.

Beberapa tahun sebelumnya, dokter di Selandia Baru melaporkan kasus seorang perempuan berusia 44 tahun yang mengalami stroke setelah mendapatkan love bite pada bagian leher. Berbeda dari kasus Julio, dokter mendokumentasikan kasus tersebut dalam literatur medis.

Perempuan itu datang ke rumah sakit setelah mengalami kelemahan pada lengan kirinya. Dokter awalnya mencari penyebab gangguan tersebut sebelum menemukan memar pada sisi kanan lehernya.

Pemeriksaan kemudian mengarah pada cedera arteri karotis internal. Dokter menyimpulkan trauma tumpul akibat cupangan telah merusak pembuluh darah dan memicu pembentukan gumpalan. Kasus tersebut kemudian muncul dalam New Zealand Medical Journal.

Perempuan tersebut selamat.

Kasus Selandia Baru penting karena memberikan bukti medis bahwa tekanan kuat pada leher dalam keadaan tertentu memang dapat menyebabkan cedera pembuluh darah. Dengan demikian, mekanisme yang media kaitkan dengan kematian Julio bukan sesuatu yang sepenuhnya mustahil secara medis.

Namun, kedua kasus tetap sangat jarang.

Dokter yang membahas fenomena tersebut pada 2016 juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung panik. Cupangan biasa tidak secara otomatis menghasilkan stroke. Untuk menimbulkan komplikasi serius, tekanan kemungkinan harus mengenai area tertentu dengan kekuatan yang cukup untuk mencederai struktur pembuluh darah di bawah kulit.

Artinya, risiko teoretis memang ada, tetapi probabilitasnya sangat kecil.

Perbedaan Usia Julio dan Pacarnya Ikut Menjadi Sorotan

Selain aspek medis, pemberitaan mengenai Julio juga menyoroti hubungan pribadinya. Julio berusia 17 tahun, sedangkan pacarnya saat itu berusia 24 tahun menurut laporan utama pada 2016.

Beberapa pemberitaan ulang bertahun-tahun kemudian menyebut usia sang pacar 25 tahun. Perbedaan tersebut kemungkinan muncul karena cerita terus mengalami pengulangan di media sosial. Sumber-sumber yang terbit ketika kasus pertama kali mencuat lebih konsisten menyebut usia 24 tahun.

Keluarga Julio kabarnya tidak menyetujui hubungan mereka karena perbedaan usia tersebut. Setelah Julio meninggal, keluarganya juga menyalahkan sang pacar atas kejadian itu. The Independent pada 2016 melaporkan perempuan tersebut kemudian tidak diketahui keberadaannya.

Namun, tidak ada informasi kredibel yang menunjukkan bahwa pengadilan kemudian menyatakan sang pacar bersalah secara pidana atas kematian Julio.

Hal tersebut perlu dibedakan dari dugaan medis mengenai penyebab kematian.

Fakta bahwa cupangan diduga berkaitan dengan stroke tidak otomatis berarti orang yang memberikannya memiliki niat mencederai atau mengetahui risiko tersebut. Cupangan pada umumnya merupakan tindakan yang tidak menghasilkan cedera serius.

Pemberitaan ulang di media sosial terkadang menghilangkan konteks tersebut dan menggambarkan peristiwa seolah-olah sang pacar sengaja melakukan sesuatu yang berbahaya.

Sumber-sumber awal tidak mendukung kesimpulan seperti itu.

Cerita Julio Kembali Viral Bertahun-tahun Kemudian

Kasus yang terjadi pada 2016 tersebut ternyata tidak menghilang dari internet. Bertahun-tahun kemudian, kisah Julio kembali muncul melalui TikTok dan platform media sosial lainnya.

Pada 2023, media Meksiko dan Amerika Latin kembali membahas Julio setelah video yang merekonstruksi kematiannya menjadi viral. Beberapa video menggunakan kecerdasan buatan untuk membuat simulasi seolah-olah Julio menceritakan sendiri kejadian yang dialaminya.

Pola tersebut membuat sebagian pengguna mengira kasusnya baru terjadi.

Padahal Julio meninggal pada 2016.

Kembalinya cerita juga menghasilkan berbagai versi tambahan. Ada unggahan yang mengubah usia pacarnya, menambahkan detail yang tidak muncul dalam laporan awal, atau menggambarkan hubungan antara cupangan dan kematian sebagai sesuatu yang pasti terjadi setiap kali seseorang mendapatkan bekas ciuman terlalu kuat.

Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.

Kasus Julio menarik justru karena kelangkaannya. Apabila cupangan sering menyebabkan stroke, rumah sakit akan menemukan komplikasi serupa secara rutin. Bukti yang tersedia menunjukkan kondisi sebaliknya: laporan medis mengenai komplikasi berat sangat sedikit.

Namun, cerita tersebut memiliki semua unsur yang mudah menjadi viral—remaja, hubungan romantis, kematian mendadak, dan penyebab yang terdengar sepele.

Itulah sebabnya kasus berusia satu dekade ini terus muncul kembali.

Cupangan Umumnya Tidak Berbahaya, tetapi Leher Tetap Area Sensitif

Kematian Julio tidak seharusnya membuat orang menganggap setiap cupangan sebagai keadaan darurat medis. Pada sebagian besar kasus, cupangan hanya menghasilkan memar superfisial akibat pecahnya pembuluh darah kecil di bawah kulit.

Meski demikian, bagian leher memang memiliki struktur penting. Arteri karotis membawa darah menuju otak, sementara berbagai saraf dan jaringan lain juga melewati area tersebut. Tekanan atau trauma yang sangat kuat tentu berbeda dari ciuman biasa.

Kasus perempuan di Selandia Baru menunjukkan bahwa trauma akibat love bite dalam keadaan luar biasa dapat mencederai pembuluh darah. Sementara itu, laporan mengenai Julio menunjukkan konsekuensi yang diduga jauh lebih fatal.

Gejala neurologis setelah trauma pada leher juga tidak boleh dianggap sebagai memar biasa. Kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, wajah turun sebelah, kesulitan berbicara, gangguan penglihatan, sakit kepala berat mendadak, kehilangan keseimbangan, penurunan kesadaran, atau kejang membutuhkan pertolongan medis segera.

Namun, konteks tetap penting.

Seseorang tidak perlu takut hanya karena menemukan bekas cupangan pada lehernya. Kasus komplikasi serius sangat langka dan sebagian besar cupangan akan menghilang tanpa pengobatan khusus.

Kisah Julio Macías González menunjukkan kemungkinan ekstrem dari sebuah kejadian yang biasanya tidak berbahaya. Remaja berusia 17 tahun itu mengalami kejang setelah menghabiskan waktu bersama pacarnya, lalu meninggal akibat stroke yang menurut laporan dokter saat itu berkaitan dengan gumpalan darah setelah cupangan.

Hampir satu dekade kemudian, kasus tersebut masih terdengar mengejutkan karena penyebab yang diduga memicunya terlihat begitu sederhana.

Namun, justru kelangkaan itulah yang membuat kisah tersebut terkenal. Cupangan dapat menyebabkan stroke dalam kondisi luar biasa ketika trauma mencederai pembuluh darah, tetapi komplikasi seperti ini sangat jarang dan bukan konsekuensi normal dari sebuah hickey.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *