Internasional

AS Tuduh Kapal COSCO China Jadi Alat Intelijen Militer, Beijing Membantah

AS tuduh COSCO kumpulkan intelijen militer melalui peralatan tersembunyi yang menurut pejabat Washington berada di sejumlah kapal perusahaan pelayaran milik negara China tersebut. Dua pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump mengatakan peralatan itu dapat menangkap sinyal komunikasi dari kapal dan pesawat ketika armada COSCO berlayar di dekat wilayah negara sasaran, termasuk Amerika Serikat. Washington menduga Beijing menggunakan informasi tersebut untuk mempelajari teknologi komunikasi militer, perkembangan enkripsi, jalur pelayaran strategis, dan pergerakan militer asing. Namun, pemerintah China langsung membantah tuduhan itu. Kedutaan Besar China di Washington menegaskan pemerintahnya tidak meminta perusahaan ataupun individu mengumpulkan data di luar negeri dengan melanggar hukum setempat. COSCO sendiri belum menanggapi permintaan komentar Reuters. Tuduhan terbaru ini menambah ketegangan keamanan maritim antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia menjelang pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping yang direncanakan berlangsung pada September.

AS Tuduh COSCO Kumpulkan Intelijen melalui Kapal Komersial

Dua pejabat senior pemerintahan Trump menyampaikan tuduhan tersebut kepada Reuters pada 1 September 2026. Keduanya meminta anonimitas karena membahas penilaian intelijen pemerintah Amerika Serikat. Menurut mereka, COSCO memiliki hubungan pengumpulan intelijen dengan Beijing yang sudah berlangsung selama beberapa dekade. Mereka mengklaim hubungan itu memungkinkan China memperoleh sinyal komunikasi dari kapal dan pesawat yang beroperasi di kawasan Amerika Utara, Eropa, serta Asia.

Pejabat AS tidak mengungkap model, produsen, jumlah, atau lokasi pasti perangkat yang mereka maksud. Namun, mereka menggambarkannya sebagai platform pengumpulan signals intelligence atau SIGINT yang canggih. Mereka juga menekankan bahwa perangkat tersebut bukan sekadar perlengkapan komunikasi rutin yang biasa kapal komersial gunakan untuk navigasi dan operasi sehari-hari.

SIGINT secara umum mengacu pada kegiatan memperoleh informasi dari sinyal elektronik dan komunikasi. Dalam operasi militer, analisis sinyal dapat memberi petunjuk mengenai pola komunikasi, teknologi yang sebuah pihak gunakan, lokasi aktivitas tertentu, hingga karakter sistem komunikasi. Namun, laporan Reuters tidak memuat bukti teknis terbuka seperti foto perangkat, hasil pemeriksaan kapal, nomor seri, atau data intersepsi yang dapat publik periksa secara mandiri.

Karena itu, artikel ini perlu membedakan dengan jelas antara tuduhan dan fakta yang sudah terverifikasi. Pemerintah AS menyampaikan klaim berdasarkan penilaian intelijennya. China menolaknya. Sampai 1 September, publik belum mendapat bukti teknis lengkap yang dapat menyelesaikan perbedaan klaim tersebut.

Washington Klaim Peralatan Menargetkan Komunikasi dan Enkripsi Militer

Seorang pejabat AS mengatakan perangkat yang Washington kaitkan dengan armada COSCO bertujuan membantu China memperoleh informasi mengenai perkembangan teknologi komunikasi militer dan sistem enkripsi. Pemerintah AS juga menduga operasi itu memberikan Beijing gambaran lebih baik mengenai aktivitas di jalur laut yang memiliki nilai strategis bagi perdagangan maupun operasi militer.

Nilai intelijen sebuah kapal komersial muncul dari sifat operasinya. Kapal kontainer besar secara rutin memasuki pelabuhan internasional, melintasi selat strategis, dan berlayar dekat jalur yang juga digunakan armada angkatan laut. Pergerakan tersebut tidak otomatis menunjukkan aktivitas intelijen. Namun, Washington khawatir sebuah negara dapat memanfaatkan akses komersial yang sah untuk melakukan pengamatan tambahan apabila kapal membawa perangkat khusus.

Menurut dua pejabat tersebut, China dapat memakai informasi yang terkumpul untuk meningkatkan pemahaman mengenai target militer asing sekaligus menyediakan peringatan awal terhadap aktivitas tertentu. Salah seorang pejabat juga mengaitkan informasi maritim itu dengan kepentingan Beijing dalam sengketa wilayah.

Amerika Serikat belum menjelaskan kapal COSCO mana yang menurutnya membawa perangkat tersebut. Washington juga tidak mengatakan apakah setiap kapal dalam jaringan global COSCO menjalankan fungsi yang sama. Detail tersebut penting karena COSCO mengoperasikan jaringan pelayaran yang sangat luas. Tanpa informasi itu, publik tidak dapat menyimpulkan bahwa seluruh armada perusahaan terlibat dalam aktivitas yang Washington tuduhkan.

Beijing Sebut Tuduhan Intelijen Tidak Berdasar

China menolak narasi Washington. Kedutaan Besar China di Amerika Serikat mengatakan pemerintah China tidak akan meminta perusahaan atau individu mengumpulkan ataupun memberikan data dan intelijen di luar negeri dengan cara yang melanggar hukum negara setempat. Juru bicara kedutaan Liu Chang juga menuding Washington mencemarkan China melalui narasi pengumpulan intelijen yang menurut Beijing tidak memiliki dasar.

COSCO tidak memberikan respons kepada Reuters sebelum laporan tersebut terbit. Karena itu, belum ada penjelasan langsung dari perusahaan mengenai tuduhan tentang peralatan tersembunyi di kapal-kapalnya.

Perbedaan posisi kedua pemerintah membuat kasus ini masuk dalam pola persaingan intelijen AS-China yang lebih luas. Washington selama beberapa tahun terakhir meningkatkan perhatian terhadap perusahaan teknologi, infrastruktur pelabuhan, perangkat telekomunikasi, jaringan siber, dan berbagai aset yang memiliki keterkaitan dengan China.

Beijing berulang kali menuduh Amerika Serikat menggunakan isu keamanan nasional untuk menekan perusahaan China. Di sisi lain, Washington berpendapat bahwa hubungan antara negara, militer, dan perusahaan China dapat menciptakan risiko keamanan yang berbeda dari hubungan bisnis biasa.

Tuduhan terhadap COSCO kemudian memperluas perdebatan itu dari jaringan digital menuju laut. Kali ini Washington tidak hanya menyoroti chip, jaringan komunikasi, atau serangan siber. Pemerintah AS mempertanyakan kemungkinan bahwa kapal dagang dapat sekaligus menyediakan platform pengumpulan informasi ketika menjalankan aktivitas komersial normal.

Pentagon Sudah Menyoroti Hubungan COSCO dengan Militer China

Kecurigaan Washington terhadap COSCO tidak muncul pertama kali pada September 2026. Pentagon memasukkan perusahaan tersebut ke daftar perusahaan yang menurut Departemen Pertahanan AS memiliki hubungan dengan militer China pada Januari 2025. Penetapan itu membawa dampak reputasi dan pembatasan tertentu terhadap pengadaan pemerintah AS, tetapi tidak sama dengan sanksi ekonomi penuh.

Sebuah laporan U.S. Naval War College pada April 2025 juga membahas kemungkinan Tentara Pembebasan Rakyat China memanfaatkan armada sipil, termasuk kapal komersial dan kapal penangkap ikan, untuk mendukung pengawasan serta pengumpulan informasi. Laporan tersebut menjadi salah satu latar yang sekarang mendapat perhatian kembali setelah tuduhan dari pejabat pemerintahan Trump.

Namun, keterkaitan administratif atau potensi dukungan terhadap militer tidak dengan sendirinya membuktikan tuduhan terbaru mengenai perangkat tertentu. Washington masih perlu menunjukkan bukti jika ingin meyakinkan pihak di luar komunitas intelijen bahwa kapal COSCO memang menjalankan aktivitas SIGINT sebagaimana yang dua pejabat tersebut gambarkan.

Hal ini penting karena COSCO bukan perusahaan kecil yang hanya melayani rute tertentu. Perusahaan milik negara China itu memiliki posisi besar dalam industri pelayaran global dan menghubungkan banyak pusat perdagangan dunia.

Setiap kebijakan keras terhadap perusahaan tersebut karena alasan keamanan berpotensi menciptakan konsekuensi yang jauh melampaui hubungan militer AS-China. Perdagangan, biaya logistik, kapasitas pelabuhan, dan rantai pasok juga bisa ikut terkena dampak.

COSCO Terlalu Besar untuk Mudah Dikeluarkan dari Rantai Pasok AS

Meski Washington memiliki kekhawatiran keamanan, COSCO tetap menjalankan aktivitas besar di pelabuhan Amerika Serikat. Perusahaan tersebut memiliki hubungan bisnis dan usaha patungan dalam layanan terminal kontainer. Posisi itu menciptakan dilema bagi pemerintah AS: semakin penting sebuah jaringan bagi perdagangan, semakin sulit Washington memisahkannya tanpa menimbulkan efek ekonomi.

Isaac Kardon, pakar strategi maritim China di Johns Hopkins School of Advanced International Studies, mengatakan kepada Reuters bahwa keterikatan COSCO dengan sistem perdagangan AS membuat pemisahan penuh sangat sulit. Menurut analisisnya, mengeluarkan perusahaan itu dari jaringan transportasi Amerika dapat menyerupai operasi besar terhadap sistem perdagangan negara tersebut.

Masalah ini memperlihatkan salah satu paradoks utama hubungan AS-China. Kedua negara bersaing dalam teknologi, militer, perdagangan, dan geopolitik. Namun, perusahaan serta rantai pasok mereka tetap saling terhubung dalam banyak sektor.

Kapal COSCO membawa barang komersial, bukan hanya antara China dan Amerika Serikat, tetapi melalui jaringan global. Jika Washington mengambil langkah ekstrem, eksportir, importir, pelabuhan, perusahaan logistik, dan konsumen Amerika juga dapat merasakan dampaknya.

Pemerintah Trump sebelumnya berencana mengenakan biaya pelabuhan bernilai miliaran dolar terhadap operator kapal China sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali industri maritim dan galangan kapal AS. Washington kemudian menunda kebijakan itu setelah Trump dan Xi mencapai détente perdagangan selama satu tahun pada Oktober 2025. Kesepakatan tersebut dijadwalkan berakhir pada November 2026.

Tuduhan Muncul Menjelang Pertemuan Trump dan Xi Jinping

Waktu munculnya laporan ini juga menarik perhatian. Donald Trump dan Xi Jinping berencana bertemu di Washington pada September 2026. Kedua pemimpin diperkirakan membahas berbagai isu perdagangan dan keamanan yang selama ini memicu ketegangan bilateral.

Kemungkinan kebangkitan kembali biaya pelabuhan terhadap perusahaan China dapat masuk dalam pembicaraan karena détente perdagangan yang berlaku saat ini mendekati batas waktunya. Tuduhan intelijen terhadap COSCO menambah lapisan baru dalam negosiasi tersebut.

Bagi Washington, persoalannya bukan sekadar apakah kapal China memperoleh keuntungan komersial dari akses ke pelabuhan Amerika. Pemerintah kini mengangkat pertanyaan apakah akses itu juga dapat menciptakan keuntungan intelijen bagi Beijing.

Bagi China, tuduhan seperti ini berpotensi menjadi contoh baru dari apa yang Beijing sebut sebagai politisasi hubungan ekonomi. Jika AS memakai penilaian intelijen untuk memperketat pembatasan terhadap perusahaan pelayaran China, Beijing dapat memandang tindakan tersebut sebagai tekanan strategis terhadap salah satu pemain besar dalam perdagangan global.

Pertemuan Trump-Xi dengan demikian dapat berlangsung ketika dua negara membawa kepentingan yang saling bertentangan. AS ingin mengurangi risiko keamanan sekaligus menjaga perdagangan. China ingin mempertahankan akses ekonomi sambil menolak tuduhan bahwa perusahaan sipilnya menjadi instrumen intelijen negara.

Kapal Dagang Kini Masuk Medan Persaingan Intelijen AS-China

Kasus ini menunjukkan bagaimana persaingan dua kekuatan besar semakin menyentuh infrastruktur yang sebelumnya publik anggap sebagai bagian dari perdagangan biasa. Pelabuhan, crane, jaringan logistik, kabel komunikasi, satelit, dan kini kapal kontainer dapat memperoleh nilai strategis ketika teknologi modern mampu mengumpulkan data dalam jumlah besar.

Namun, tuduhan terbaru tetap membutuhkan kehati-hatian. AS tuduh COSCO kumpulkan intelijen melalui perangkat tersembunyi, tetapi pemerintah Amerika belum membuka bukti teknis lengkap kepada publik. Beijing membantah klaim tersebut, sementara COSCO belum memberikan tanggapan langsung kepada Reuters.

Jika Washington nanti mempublikasikan bukti tambahan, kasus ini dapat meningkatkan tekanan terhadap COSCO dan perusahaan maritim China lainnya. Amerika Serikat juga bisa memperluas pemeriksaan keamanan terhadap kapal yang memasuki pelabuhan atau mempertimbangkan kembali kebijakan biaya pelabuhan yang sebelumnya mereka tunda.

Sebaliknya, tanpa bukti terbuka tambahan, perdebatan akan tetap bertumpu pada penilaian intelijen AS dan bantahan China. Situasi itu membuat judul seperti “kapal COSCO terbukti memata-matai AS” terlalu jauh untuk saat ini.

Yang sudah jelas, Washington sekarang melihat aktivitas maritim komersial China melalui lensa keamanan yang jauh lebih tajam. Tuduhan terhadap COSCO memperlihatkan bahwa persaingan AS-China tidak lagi hanya berlangsung melalui tarif, semikonduktor, atau kapal perang. Kapal kontainer yang mengangkut barang ke berbagai belahan dunia pun kini masuk ke pusat pertarungan intelijen dan keamanan kedua negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *